Buku Ajar SD Sebut NU Radikal Bakal Ditarik

TUNJUKAN BUKU : Salah satu guru menunjukkan buku ajar SD yang memuat konten organisasi Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi masyarakat radikal, kemarin. 


WONOSOBO (FOKUSSABA)- Buku panduan ajar bagi siswa sekolah dasar (SD) yang memuat konten organisasi Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi masyarakat radikal, diduga telah menyebar di sekolah-sekolah di Wonosobo. Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Wonosobo mengaku akan mengintruksikan sekolah-sekolah yang telah mendapatkan buku panduan, guna menarik buku tersebut dari peredaran.

Salah salah satu guru SD 1 Kalibeber Kecamatan Mojotengah yang enggan disebutkan namanya menyebutkan, sekolahnya telah mendapatkan buku panduan ajar tersebut. Dimungkinkan, buku tersebut juga telah menyebar di sejumlah sekolah yang ada di Wonosobo. "Sepertinya sudah menyebar, dibuktikan dengan keberadaan buku tersebut di lembaga pendidikan tempat saya mengampu," ujarnya kepada wartawan.

Menurutnya, beredarnya buku panduan ajar bagi siswa SD tersebut memang ada yang memuat konten salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia yang disebut sebagai ormas radikal. Adanya konten penulisan itu juga sempat mendapat protes dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), karena telah menyebar di wilayah ibu kota. Dia juga menyebutkan, pihaknya telah menerima buku itu yang sebenarnya merupakan hasil revisi tahun 2017 pada semester pengajaran sekolah di kalender ajar tahun ini.

Selain itu buku tersebut juga telah digunakan sebagai bahan ajar. Namun, poin yang menjadi polemik berada di halaman 45, di mana pada halaman itu terdapat poin yang menjadi permasalahan di tingkat nasional. Di dalam pembahasan buku disebutkan salah satu organisasi Islam terbesar, yakni Nahdlatul Ulama merupakan organisasi radikal disandingkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), Perhimpunan Indonesia (PI) dan Partai Nasional Indonesia (PNI).

Dikonfirmasi, Kepala Disdikpora Wonosobo, Sigit Sukarsana mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebaran buku tersebut di wilayah Wonosobo. Pasalnya, biasanya buku ajar dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia tidak didistribusikan melalui Disdikpora terlebih dahulu. "Saya tidak tahu pastinya di Wonosobo sudah menyebar atau tidak, tapi kalau ada harus segera ditarik," ungkapnya.

Menurut dia, biasanya memang distribusi buku langsung ke lembaga pendidikan terkait, sehingga pihanya juga mengaku tak tahu menahu. Namun, jika terjadi masalah, nyata-nyatanya hal itu pun akan menjadi kewenangan dinas terkait di daerah. "Saya melihat di televisi dan berita-berita kata Pak Menteri buku tersebut harus ditarik. Kami di daerah tentu akan mematuhi untuk mengintruksikan sekolah-sekolah yang sudah mendapatkan agar ditarik," beber dia.

Dikatakan, setelah melakukan pengecekan di lapangan, buku tersebut telah dipesan oleh masing-masing sekolah pada tahun 2018. Namun, karena datangnya buku terlambat, maka baru diajarkan tahun 2019. Buku berjudul 'Peristiwa dalam Kehidupan, Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013 untuk Kelas V. "Tadi sudah dicek di beberapa sekolah dan mau kita tarik buku itu sesuai intruksi Pak Menteri," jelasnya. (AB)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.