Buku Ajar Sebut NU Radikal Tak Boleh Diajarkan


TUNJUKKAN BUKU AJAR : Salah satu wali murid dengan siswa menunjukkan buku ajar yang terdapat materi NU sebagai organisasi radikal, baru-baru ini.

WONOSOBO (FOKUSSABA)- Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Wonosobo, Sigit Sukarsana meminta buku ajar yang memuat Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi radikal untuk tidak diajarkan ke anak didik. Disdikpora Wonosobo telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor 481/3/0222/2019 kepada seluruh sekolah dasar (SD) di Wonosobo terkait hal tersebut.

"Untuk sementara materi buku ajar tersebut tidak diajarkan dulu ke siswa kelas V di lingkungan SD/MI di seluruh Wonosobo. Saya juga telah meminta pengawas SD untuk melakukan pemantauan di lapangan. Sembari menunggu penjelasan dan keputusan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI)," ungkap Sekretaris Disdikpora Wonosobo, Musofa.

Menurutnya, pada buku ajar tersebut memang tertera organisasi Perhimpunan Indonesia (PI), Partai Komunis Indonesia (PKI), Nahdlarul Ulama (NU) dan Partai Nasional Indonesia (PNI) sebagai organisasi radikal terhadap pemerintah Hindia Belanda. Materi pelajaran yang belakangan ini sempat menimbulkan polemik dan kontroversi tersebut terdapat dalam buku ajar Kurikulum 2013 Tema 7 yang berjudul "Peristiwa Dalam Kehidupan" bagi siswa SD/MI Kelas V.

Kepala SD Negeri 1 Wonosobo Turdiyati mengatakan selain terdapat di buku Tema 7, ada penjelasan yang lebih rinci di buku Lembar Kerja Siswa (LKS) terkait dengan organisasi radikal di masa itu. Dalam materi menyakut sejarah, disebutkan masa pergerakan nasional dibagi tiga tahap, yakni masa awal pergerakan, masa radikal dan masa moderat.

"Nah, dalam masa radikal PI, PKI, NU, dan PKI disebut di situ. Tapi maksudnya radikal terhadap pemerintah Hindia Belanda bukan kepada NKRI," ujarnya. Sementara itu Dosen Universitas Sains Al Qur'an (Unsiq) Jawa Tengah di Wonosobo yang juga aktivis NU, Dr Nurul Mubin menyebutkan, tim penulis buku ajar mestinya tidak menyamakan NU dengan PKI.

Karena sejarah sudah mencatat NU tidak pernah memberontak terhadap negaranya sendiri. Sementara PKI melakukan pemberontakan. "Kalau organisasi PKI itu radikal dan pemberontak itu benar. Tapi penulis buku yang menyamakan NU dengan PKI sebagai organisasi radikal itu tindakan ceroboh," tegas Nurul Mubin yang juga salah satu orang tua dari siswa Kelas V SD 1 Wonosobo.

Pihaknya berharap agar Disdikpora, pengawas SD dan guru SD Kelas V di Wonosobo khususnya untuk melakukan pengawasan. Hal itu penting terus dilakukan agar penyampaian materi yang kontroversi tersebut tidak menyesatkan anak didik di kemudian hari. (AB)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.