140 Juta Pengguna Media Sosial Rawan Jadi Sasaran Empuk Penyebaran Hoax



Koordinator Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Kabupaten Wonosobo Astin Meiningsih menyampaikan pandangannya dalam kegiatan Rapat Kerja Teknis dengan Media di Basement Surya Asia Wonosobo, Rabu (20/2) siang.

WONOSOBO (FOKUSSABA)
- Koordinator Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Kabupaten Wonosobo Astin Meiningsih menyebut, tingkat literasi masyarakat untuk membaca informasi yang diperoleh, di Indonesia, menempati urutan 60 dari 61 negara-negara di dunia.

Di Indonesia terdapat sebanyak 140 juta pemilik smartphone pengguna media sosial yang belum tentu akan menyebarkan atau menerima informasi yang beredar di dunia maya. Penyebaran di media sosial antara lain, melalui facebook, instagram, whatsApp, twitter, youtobe dan lainnya.

Astin menyebutkan dalam penyebarannya, terdapat dua kategori mengenai hoax, yakni missinfomasi dan disinformasi. Missinfomasi artinya penyebaran berita bohong yang memang tidak diketahuinya, namun tetap langsung disebarluaskan tanpa melakukan klarifikasi informasi.

Sementara disinformasi artinya penyebaran berita bohong menang benar-benar diproduksi. "Kami butuh peranan teman-teman media, karena dalam 2018 saja, kami hanya bisa melakukan pengecekan 997 berita hoax," beber dia

Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Wonosobo, Sumali Ibnu Chamid menyebutkan, pihaknya terus melakukan pendekatan komunikasi lintas komunitas, guna menangkal berita bohong, politisasi sara maupun tolak politik uang menjelang Pemilu Serentak 2019.

Telah diagendakan 14 kegiatan dengan komunitas sampai Maret mendatang. Komunitas tersebut menjadi sasaran upaya memberantas berita bohong, politisasi sara dan tolak politik uang menjelang Pemilu Serentak 2019. Salah satu yang menjadi sasaran dalam komunitas tersebut adalah kalangan jurnalis.

"Hari ini kami undang para teman-teman jurnalis dari media cetak, media online maupun radio di wilayah Wonosobo. Pasalnya, media memiliki jangkauan pembaca lebih luas, sehingga perlu mendapatkan pembekalan teknis mengenai hoax, sara, money politics," ujarnya. (AB)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.