Masih Ada Miras Oplosan, Salah Siapa?

Kasus minuman keras (miras) oplosan di kalangan remaja di Wonosobo, masih saja terjadi. Berbagai hal dilakukan remaja untuk tetap bisa menikmati candu, meskipun peredaran miras saat ini tengah diperangi. Lalu salah siapa jika sudah ada menjadi korban?

KUNJUNGI KORBAN : Tim Keluarga Sosial Wonosobo berkunjung ke kediaman Aji Syahputra (13) asal Kaliwiro yang telah menjalani pengobatan di RSUD KRT Setjonegoro, Jumat (22/2) pagi.

WONOSOBO (FOKUSSABA)- Kasus minuman keras (miras) oplosan di kalangan remaja di Wonosobo, masih saja terjadi. Sejumlah laporan dari masyarakat, masih banyak remaja membeli obat batuk sachet dalam jumlah banyak untuk melakukan aksi mabok-mabokan. Ada juga kalangan remaja mencampur sejumlah produk untuk menjadi sebuah perangsang demi kenikmatan sesaat. Salah satunya yang dilakukan sejumlah remaja di wilayah Kecamatan Kaliwiro, Wonosobo.

Mereka nekad meracik beberapa botol alkohol 70 persen yang jelas-jelas bukanlah minuman, dengan campuran serbuk minuman berenergi dan air mineral. Dari empat remaja yang melakukan pesta miras oplosan, dua diantaranya merupakan pelajar di bawah umur, usia 11 dan 13 tahun. Bahkan, satu diantaranya mengalami koma hingga mengalami kebutaan permanen akibat polahnya. Kondisi itu tentu membuat hati kita miris. Namun, pantaskah kita menyalahkan mereka. Lalu ini salah siapa?

Jumat (22/2) kemarin, Tim Keluarga Sosial Wonosobo telah berkunjung ke kediaman Aji Syahputra remaja 13 tahun asal Kaliwiro, yang sempat mengalami kritis. Bahkan kejadian itu sempat ramai diberitakan di sejumlah media dan media sosial. "Korban mengalami kebutaan permanen. Saat ini remaja tersebut telah pulang ke rumahnya dan telah dirawat neneknya, karena ayahnya sudah meninggal dunia dan ibunya bekerja di Kalimantan," ujar Ketua Keluarga Sosial, Syaifur Rohman.

Saat itu, korban Aji meminum minuman oplosan itu bersama empat rekannya yang jauh lebih dewasa. Namun, korban dilarikan ke Puskesmas Kaliwiro dan dirujuk ke Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo lantaran mengalami sakit perut akut. Bahkan ia sempat mengalami koma dan mendapatkan penanganan intensif, sehingga yang bersangkutan bisa terselamatkan. "Kami berusaha memberikan motivasi, karena kami merasakan betapa si anak tersebut mengalami tekanan psikologis serta merasa paling bersalah atas apa yang dialaminya," tutur dia.

Terlebih, saat ini si anak menjadi seorang difabel. Bagaimanapun kita berharap, pihak terkait memberikan perhatian, terutama dari pemerintah baik melalui Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsos dan PMD) maupun Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) ataupun pihak-pihak yang membidangi. "Karena masa depannya masih panjang, terlebih latar belakang keluarganya," beber dia.

Menurutnya, remaja tersebut sudah ditinggalkan ayahnya yang sudah meninggal. Sejak kecil ia memang sudah dirawat sang nenek, karena sang ibunda berada di Kalimantan. Kehidupan nenek yang serba pas-pasan juga sempat mengalami kebingungan saat harus menanggung biaya perawatan. Karena, meskipun sudah menggunakan jaminan kesehatan daerah (Jamkesda), dana untuk perawatan tetap saja tidak cukup, terlebih si cucu juga harus rutin diberikan obat jalan.

"Ya sekali lagi kejadian semacam ini adalah tugas bagi kita semua. Dimana rasa kepedulian, pengawasan serta informasi masih sangat perlu diintensifkan. Salah siapa? Banyak hal yang perlu kita renungkan. Haruskah akan ada korban-korban yang salah dalam pergaulan semakin banyak? Apakah ini pembiaran ataukah ini akibat dari ego kita masing-masing. Sekali lagi, mari kita renungkan, oplosan, lem, obat-obat batuk, pembalut bahkan terbaru pertalite, akan menjadi konsumsi candu bagi mereka," beber dia.

Di saat masa depan mereka masih begitu panjang, mari selamatkan generasi dengan mulai peduli dari tingkat yang tidak terduga. Dipedesaan, perkotaan, dan mari kita lihat bocah-bocah di lampu merah, di jalan, dengan liar. Haruskah kita biarkan. "Kami berupaya semampu kami ngumpulin teman-teman, alhamdulillah terkumpul Rp 1 juta. Lumayan buat bantu berobat jalan. Kalau bukan kita siapa, jadi tak perlu kita menyalahkan, menghujat, apalagi menghakimi. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama," beber dia. (AB)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.