Sejumlah Wartawan Sesalkan Kepala Diskominfo Batasi Wawancara ke Bupati

Sejumlah wartawan yang bertugas di Wonosobo menyesalkan tindakan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Wonosobo, Eko Suryantoro, membatasi agenda wawancara kepada Bupati Wonosobo Eko Purnomo.
BERSWAFOTO DENGAN WARGA : Bupati Wonosobo Eko Purnomo menyempatkan berswafoto dengan pedagang dan warga pasar di sela meninjau los dan kios di Pasar Selomerto Wonosobo, Selasa (26/2) kemarin.


WONOSOBO (FOKUSSABA)- Sejumlah wartawan yang bertugas di Wonosobo menyesalkan tindakan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Wonosobo, Eko Suryantoro, membatasi agenda wawancara kepada Bupati Wonosobo Eko Purnomo. Tak hanya sekali, sejumlah agenda wawancara cegat yang dilakukan sejumlah awak media kepada Bupati Eko, hanya dibatasi beberapa menit saja. Padahal banyak hal yang harus terkonfirmasi kepada orang nomor satu di Wonosobo itu.

Salah satu wartawan dari media online Sorot.Co, Ari Sunandar menyebutkan, dirinya bersama wartawan lain sudah beberapa kali saat melakukan wawancara cegat dengan Bupati Eko dihentikan di tengah-tengah proses wawancara. Alasan yang diutarakan hampir serupa, yakni Bupati Eko masih akan melakukan kegiatan lain yang harus cepat dilakukan. "Terakhir kemarin pas kegiatan peresmian Pasar Selomerto, baru dua menit wawancara, malah wawancara dihentikan," ujarnya.

Sejumlah awak media mengaku kesulitan saat hendak melakukan kegiatan wawancara dengan orang nomor satu di Wonosobo itu. Karena, saat didatangi di kantornya, sering tidak bertemu. Hal yang tepat untuk melakukan klarifikasi, yakni saat bertemu dengannya saat kegiatan. "Sayangnya setiap Bupati memberikan keterangan untuk menjadi narasumber, kalau ada Kepala Diskominfo), wawancara dibatasi," beber dia.

Padahal, awak media ingin banyak bertanya lebih lanjut mengenai banyaknya persoalan yang perlu dijawab langsung oleh Bupati selaku pemegang penuh kebijakan di Wonosobo. Hal ini tentu disayangkan oleh sejumlah wartawan yang hendak meliput dan melakukan konfirmasi dalam berbagai persoalan yang terjadi di Wonosobo. Dengan membatasi Bupati berbicara banyak terkait persoalan yang ada, justru tidak akan menyelesaikan masalah.

"Padahal perlunya kita melakukan konfirmasi atau meminta statement Bupati itu untuk mengetahui sejauh mana gambaran persoalan-persoalan yang hendak atau sudah ditangani oleh bupati. Apakah sudah ada perkembangan atau belum? Ini perlu jelas, supaya berita dapat terkonfirmasi dari kedua belah pihak atau cover both side. Akhirnya, tidak terjadi simpang siur di tengah masyarakat," imbuh wartawan Suara Merdeka, M Abdul Rohman.

Kejadian pembatasan wawancara bukan dari bupatinya sendiri. Yang menolak atau tidak menginginkan dilakukan wawancara, justru hal itu dilakukan sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Wonosobo, seperti halnya Kepala Diskominfo, bahkan Pejabat Sekda Wonosobo Muhammad Zuhri saat mendampingi Bupati di dalam sejumlah pertemuan. "Alasannya juga setiap kali pasti sama, bupati katanya masih ada agenda," beber dia.

Padahal, jika dilihat saat kegiatan di peresmian Pasar Selomerto, pasca peninjauan los dan kios pasar dan wawancara, Bupati Eko bersama pejabat lain setelah itu agenda makan bersama, terus kembali ke panggung peresmian untuk bisa menikmati penampilan penyanyi kondang Didi Kempot. Bahkan Bupati Eko sempat membawakan dua buah lagu dalam kesempatan itu. "Ya kami menyesalkan saja, karena ada pembatasan," timpal Ari.

Karena, memang baru sekitar dua menit wawancara saat dirinya merekam pernyataan Bupati Eko, lantas tiba-tiba disuruh menghentikan wawancara tersebut. Padahal persoalanya, memang pertanyaan belum benar-benar beres. Sikap tersebut tentu sangat disayangkan oleh sejumlah awak media yang hadir ke lokasi acara. Pasalnya, masih banyak informasi yang perlu digali untuk kepentingan informasi masyarakat.

Menurutnya, kesempatan untuk menemui Bupati sangatlah jarang terjadi. Hanya dalam agenda-agenda tertentu saja. "Meskipun hal itu tidak dilarang. Namun saya kira ini tidak baik bagi bupati sendiri. Karena berkaitan dengan kebijakan strategis, seharusnya seorang kepala daerah yang memberi penegasan sendiri. Lalu peran bupati sendiri di mana jika setiap persoalan harus dibatasi informasinya saat belum pada inti yang hendak wartawan gali. Kan kita butuh kejelasan bukan sekedar jawaban," ujar Sigit Rahmanto, wartawan Jawapos Radar Kedu.

Senada wartawan Wonosobo Ekspres, Agus Supriyadi menyebutkan, wartawan sebenarnya sudah sangat ingin untuk segera dipertemukan oleh Bupati dan membahas tentang isu-isu yang ada di Wonosobo. "Harapan kami sih pasca kejadian ini, Bupati bisa tentukan kebijakanya lah mau seperti apa. Dengan tidak ada lagi pembatasan yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu saat wartawan hendak mengorek informasi pada orang nomor satu di Wonosobo," ujarnya.

Terkecuali, kata dia, kalau Bupati Eko sendiri yang tidak berkenan memberikan keterangan, hal itu beda. Awak media sendiri selalu terbuka untuk diajak diskusi. Dijelaskan, di pasal 4 Undang-Undang Pers, menjamin kemerdekaan pers, dan pers nasional memiliki hak mencari, memperoleh dan menyebar luaskan gagasan dan informasi. "Jadi kalau ada wartawan yang hendak meliput kemudian sengaja membatasi, jelas harus ada konsekuensi hukumnya dong," tutur dia.

Salah satu pegawai Diskominfo yang enggan disebutkan namanya mengaku tak begitu mengerti sebab mengapa Kepala Diskominfo membatasi wawancara yang dilakukan oleh awak media kepada Bupati. "Mungkin karena segera mau manggung bareng Didi Kempot mas," terangnya pada wartawan. Ia sendiri tidak mengikuti agenda Bupati selanjutnya, dan lebih memilih menikmati lantunan lagu campursari yang menggoyang warga Selomerto khususnya dalam semarak pasar rakyatnya.

Kepala Diskominfo Wonosobo, Eko Suryantoro saat dikonfirmasi belum mau memberikan komentarnya mengenai tindakannya menyetop kegiatan wawancara awak media bersama Bupati Wonosobo Eko Purnomo. Saat ini ia tengah mengikuti pelatihan di Solo. "Saya lagi pelatihan di Solo. InsyaAllah Senin yah. Salam buat temen-temen," ujarnya. (AB)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.