Tak Puas Hasil Perhitungan Suara, Kontestan Pemilu Mengamuk


HALAU PESERTA DEMO : Personel gabungan berupaya menghalau peserta aksi yang beringas saat agenda simulasi aksi unjuk rasa di Depan Pendapa Kabupaten Wonosobo, Sabtu (9/2) kemarin.

WONOSOBO (FOKUSSABA)-
Puluhan massa pendukung salah satu kontestan Pemilu 2019 mengamuk dan melakukan unjuk rasa memprotes hasil perhitungan suara di Depan Pendapa Kabupaten Wonosobo, Sabtu (9/2) kemarin. Mereka menuntut diadakan penghitungan ulang, namun karena negosiasi tak memperoleh hasil, massa makin beringas dan melakukan aksi brutal, sehingga harus dipukul mundur aparat gabungan yang melakukan pengamanan di lokasi.

Hal itu tergambar dalam acara simulasi aksi unjuk rasa saat berlangsungnya proses Pemilu yang digelar Kodim 0707/Wonosobo bekerja sama dengan Polres dan Satpol PP. "Skenario diperankan oleh TNI/Polri, aksi unjuk rasa tersebut dipicu dengan adanya ketidak puasan terhadap hasil penghitungan suara oleh pihak KPU," ujar Perwira Seksi Operasi Kodim 0707/Wonosobo, Kapten Czi Sarwiyono

Menurut dia, memang dalam skenario salah satu kontestan pemilu legislatif mengerahkan masa pendukungnya untuk mengadakan unjuk rasa memprotes hasil penghitungan suara tersebut. Mereka menuntut untuk diadakan penghitungan ulang. Di saat unjuk rasa berlangsung, pihak aparat kepolisian berusaha untuk bernegosiasi dengan perwakilan pengunjuk rasa, namun negosiasi tersebut tidak berhasil.

Rupanya masa pengunjuk rasa makin lama makin bertambah, sehingga terlihat massa semakin beringas. Akibat dari keberingasan massa pengunjuk rasa, pasukan Polres Wonosobo meminta bantuan aparat TNI untuk mengatasi pengunjuk rasa tersebut. Pemandangan yang agak sedikit mengerikan terlihat, terjadi saling dorong antara pengunjuk rasa dan pasukan penindakan huru hara (PHH).

Kemudian, massa melempari pasukan PHH dengan berbagai macam benda, sehingga kendaraan woter canon pun dikerahkan untuk menghalau massa. Akhirnya massa pengunjuk rasa dapat dikendalikan. massa pengunjuk rasa pelan-pelan mundur dan pada akhirnya mereka membubarkan diri. "Latihan ini untuk melatih kesiapan TNI-Polri menghadapi dan mensukseskan kegiatan pesta demokrasi," tuturnya.

Komandan Kodim 0707/Wonosobo, Letkol Czi Fauzan Fadli mengatakan, latihan itu merupakan aplikasi dari kegiatan latihan dril teknik dan dril taktis yang sebelumnya dilaksanakan di Makodim. Dia berharap melalui latihan ini, seluruh anggota dapat memahami setiap tahapan-tahapan yang akan dilaksanakan, apabila terjadi hal seperti yang kita latihkan pada hari ini tandasnya.

"Lebih baik siap akan tetapi tidak digunakan, dari pada saat digunakan kita tidak siap. Untuk itu keseriusan dan kekompakan semua komponen yang ada sangatlah diperlukan. Akan tetapi TNI bergerak jika ada permintaan dari kepolisian, selama Polri bisa menangani jika terjadi unjuk rasa yang sebenarnya, maka TNI tidak turun ikut mengatasinya," beber dia memberi penekanan.

Sementara itu, Kapolres Wonosobo AKBP Abdul Waras menyampaikan sinergi bersama Kodim dan Satpol PP sangatlah diperlukan. Dia juga mengingatkan agar anggota kepolisian bisa lebih peka lagi, karena seharusnya yang menyelenggarakan itu kepolisian. "Akan tetapi saat ini pihak Kodim yang menyelenggarakan. Itu tidak masalah karena menunjukan sinergitas yang baik antara TNI dan Polri yang saling mendukung," ujarnya. (AB)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.