TUNJUKAN UPAL : Kepala Satreskrim Polres Temanggung, AKP Dwi Haryadi bersama anggotanya menunjukkan kertas uang palsu yang belum dipotong saat ungkap kasus di kantor kepolisian setempat, Kamis (14/2) pagi.

TEMANGGUNG (FOKUSSABA)- Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Temanggung meringkus dua tersangka pemilik sebanyak 500 lembar kertas yang diduga uang palsu pecahan Rp 100.000 senilai Rp 50 juta. Turut diamankan juga 12 lembar kertas yang diduga uang palsu pecahan Rp 100.000 yang belum di potong, serta satu buah tas laptop warna hitam tempat untuk membawa dan menyimpan uang kertas palsu yang belum dipotong.

Kepala Satreskrim Polres Temanggung, AKP Dwi Haryadi, mengungkapkan, ratusan lembar uang palsu tersebut disita dari tangan tersangka Ahmad Saefudin (35) warga Dusun Gentan RT 002 RW 007, Desa Donorojo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang dan Sungkono (61) warga Dusun Krajan RT 010 RW 004, Desa Koncer Kidul, Kecamatan Tenggarang, Kabupaten Bondowoso.

"Kami juga mengamankan satu buah tas punggung warna hitam tempat untuk membawa dan menyimpan uang palsu yang sudah dipotong. Juga satu unit kendaraan bermotor merk Daihatsu Xenia bernomor polisi AB-1323-UE, tahun 2011, warna hitam, Noka : MHKV1BA2JBK107545, Nosin : DH97038, STNK atas nama Rusmiyanto alamat Karangjati 18/41 Sinduadi Mlati, Sleman, Yogyakarta," ungkapnya saat ungkap kasus, Kamis (14/2) pagi.

Dijelaskan, kronologi kejadian, sekitar bulan Desember 2018, Ahmad dan Sungkono menuju ke Jember , Jawa Timur dalam rangka menagih hutang sehubungan dengan proyek yang mereka kerjakan. Pada saat perjalanan menuju Jember, masih di wilayah Jember, mereka berhenti di SPBU untuk sholat ashar dan berkenalan dengan seseorang yang mengaku Budi (45) warga Jember. Ciri-ciri tinggi kurang lebih 165 centimeter, perawakan gemuk, rambut luruk pendek, logat Jawa timur dan kulit sawo matang.

Dalam pertemuan dengan seseorang yang mengaku Budi, para tersangka sempat berbincang – bincang dan menceritakan bahwa dirinya sedang mengalami kesulitan ekonomi, karena proyek yang dikerjakan tidak jalan. Kemudian Budi saat itu menjanjikan bisa membantu kesulitan yang dialami, kemudian mereka bertukaran nomor handphone. Setelah bertukaran nomor handphone selanjutnya tersangka melanjutkan perjalanan menuju rekanan (proyek) untuk menagih hutang , sesampainya di tempat tersebut ternyata yang bersangkutan tidak ada tidak ketemu.

"Kemudian para tersangka pulang. Dalam perjalanan pulang tersangka menghubungi Budi yang sebelumnya menjanjikan bisa membantu mengatasi kesulitan ekonomi yang sedang dialami dan diminta bertemu lagi di SPBU yang sebelumnya mereka bertemu. Sesampainya di SPBU sudah ada Budi, kemudian Budi menunjukkan kepada tersangka uang palsu dengan pecahan Rp 100.000 dan tersangka diminta untuk mengedarkan uang palsu tersebut dengan cara menjual uang rupiah palsu tersebut dengan uang asli," beber dia.

Kemudian, para tersangka dijanjikan apabila berhasil menjualkan uang palsu tersebut setiap 20 lembar akan mendapatkan upah sebesar Rp 200.000. Setelah tersangka mengiyakan tawaran dari Budi, kemudian Budi mengajak masuk ke dalam mobil milik tersangka dan mengeluarkan uang palsu tersebut dan menyerahkan kepada para tersangka. Setelah menerima uang palsu, para tersangka belum sempat mengedarkan uang palsu tersebut, karena kualitas uang palsu kasar dan nomor handphone milik Budi hilang.

"Sekitar awal bulan Februari 2019, tersangka Sungkono meminta 12 lembar kertas yang diduga uang palsu pecahan Rp 100.000 yang belum dipotong dari Udin untuk dibawa Sungkono dengan tujuan untuk diperlihatkan kepada seseorang. Kronologis penangkapan, pada awal Februari 2019, Yuswan meminta tolong kepada tersangka Sungkono untuk dicarikan pinjaman dengan jaminan satu buah sertifikat tanah milik Yuswan. Selanjutnya Sungkono mendapatkan orang yang mau meminjamkan uang dengan jaminan sertifikat tanah milik Yuswan, yaitu Sukarman," beber dia.

Pada tanggal 7 Februari 2019, Yuswan bersama tersangka Sungkono, Kismarlip dan tersangka Ahmad Saefudin berangkat dari Magelang menuju rumah Sukarman menggunakan satu mobil Daihatsu Xenia bernomor polisi AB-1323-UE, dengan dikemudikan tersangka Ahmad. Sesampainya di rumah Sukarman, Yuswan bersama dengan Kismarlip dan tersangka Ahmad disuruh menunggu di ruang tamu. Sedangkan tersangka Sungkono dan Sukarman pergi menuju ke lantai dua rumah miliknya.

"Saat di lantai dua, Sukarman dan tersangka Sungkono awalnya membahas tentang pinjaman kepada Yuswan dengan jaminan sertifikat tanah milik Yuswan. Setelah itu tersangka Sungkono memperlihatkan uang palsu yang belum dipotong kepada Sukarman. Selanjutnya Sukarman memberikan informasi kepada anggota kepolisian yang bernama Choirul Umam. Umam bersama dengan anggota kepolisian lainnya yaitu Bambang Puji Purnomo dan Aris Trian Prabowo mendatangi rumah Sukarman," beber dia.

Saat sampai di rumah Sukarman tersebut, anggota kepolisian tersebut melakukan penggeledahan dan menemukan 12 lembar kertas yang diduga uang palsu pecahan Rp 100.000 yang belum di potong di dalam satu buah tas laptop warna hitam milik Sungkono. Kemudian anggota kepolisian melakukan pengeledahan di sebuah mobil milik tersangka dan menemukan 500 lembar kertas yang diduga uang palsu pecahan Rp 100.000 di dalam satu buah tas punggung warna hitam milik tersangka Ahmad.

"Para pelaku dan saksi dibawa dan diamankan ke Kantor Kepolisian Polres Temanggung untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Atas kejadian itu, pasal yang disangkakan dan ancaman hukumannya, karena melakukan tindak pidana memiliki dan menyimpan yang diketahuinya merupakan uang palsu sebagaimana dimaksud dalam pasal 36 ayat (2) juncto pasal 26 ayat (2) UURI Nomor 7 tahun 2011 tentang Mata Uang, mereka diancam hukuman selama-lamanya 10 tahun dan denda paling tinggi Rp 10 miliar," beber dia. (AB)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.