Dihantui Rasa Bersalah, Eksekutor Pembunuhan Pengusaha Tembakau Menyerahkan Diri


TUNJUKAN BARANG BUKTI : Kasatreskrim Polres Temanggung AKP Dwi Haryadi didampingi Kasubbag Humas Polres Temanggung AKP Henny Widiyanti menunjukkan barang bukti dan para tersangka dalam ungkap kasus di Mapolres Temanggung, Sabtu (23/3) sore.

TEMANGGUNG (FOKUSSABA)- ‎Eksekutor kasus pembunuhan berencana seorang pengusaha tembakau bernama Tjiong Boen Siong (64), warga Jalan Kosasih Nomor 59 RT 001 RW 006 Kelurahan Parakan Kauman Kecamatan Parakan, Temanggung, akhirnya menyerahkan diri ke polisi. Tersangka A alias Rizal atau Ambon yang sebelumnya buron, menyerahkan diri ke Polres Temanggung, Jumat (22/3) petang. Selama dalam pengejaran, warga Temanggung itu mengaku bersembunyi di wilayah Kota Tembakau ‎saja.

Kapolres Temanggung, AKBP Wiyono Eko Prasetyo melalui Kasatreskrim Polres Temanggung AKP Dwi Haryadi mengungkapkan, terdapat fakta baru dari hasil pemeriksaan terhadap Ambon usai menyerahkan diri. Jajaran Satreskrim Polres Temanggung akhirnya juga meringkus satu tersangka baru berinisial Ag alias Agus, warga Desa Bansri, Kecamatan Bulu. Tersangka Agus berperan menyediakan tempat untuk mengeksekusi korban Tjiong Boen Siong.

‎"Saudara A, sekitar pukul 20.00 berniat baik menyerahkan diri ke Polres. Dari pemeriksaan terhadap A polisi akhirnya mengetahui adanya seorang tersangka lainnya yakni Ag. Dia berperan menyediakan tempat untuk mengeksekusi korban. Ag diringkus di rumahnya, Sabtu (23/3) dini hari sekitar pukul 03.00. Jadi, setelah pemeriksaan secara intensif terhadap ketiganya‎, kronologi kejadian berubah dari yang kemarin kami sampaikan," ungkapnya dalam ungkap kasus di Mapolres, Sabtu (23/3) sore.

Dengan bertambahnya jumlah pelaku, saat ini polisi telah menetapkan lima orang tersangka, dengan peran berbeda-beda. Hasil pemeriksaan terhadap para tersangka, akhirnya terkuak bahwa korban tidak dibunuh di pinggir jalan raya Parakan-Bulu, seperti halnya pengakuan ketiga tersangka yakni Nurtafia (istri korban), Permadi, dan Indarto alias Markun sebelumnya. "Ternyata korban dihabisi di ruang tamu rumah Ag," tandasnya didampingi Kasubbag Humas Polres Temanggung AKP Henny Widiyanti.

Setelah data pemeriksaan dicocokan dari pengakuan para tersangka, terungkap sehari sebelum ekskusi atau Senin (11/3), ‎tersangka Permadi dan Indarto mendatangi rumah Agus. Mereka kemudian mengobrol soal bawang merah. Kebetulan, Agus selama ini berbisnis komoditi bawang merah, dan saat ini sedang kesulitan dana. Tersangka Permadi pun menjanjikan memberikan modal usaha kepada Agus berupa dana segar, dengan syarat bersedia meminjamkan rumahnya untuk keperluan 'menagih hutang'.

Mereka menyebut, akan memberi pelajaran kepada Tjiong Boen Siong. Karena sedang butuh dana, Agus akhirnya menyanggupi, dengan syarat jangan sampai ada pembunuhan atau korban mati di rumahnya. Selanjutnya, pada Selasa (12/3) ketiganya bertemu dengan Tjiong Boen Siong di rumah Agus. Selain bertugas menyediakan tempat, Agus dan Ambon juga diminta mengobrol dengan korban, terkait bawang merah dan pupuk cair, yang sebelumnya memang telah dipesan tersangka, untuk memancing korban keluar dari rumah.

"Saat korban sedang asyik mengobrol inilah, M (alias Markun atau Indarto) memukul tengkuk dan kepala belakang korban sebanyak tiga kali menggunakan alat yang telah disediakan sebelumnya, yakni berupa gagang cangkul. Setelah dipukul, korban terduduk diam tak bergerak. Selanjutnya, Ambon dan Indrato, mengangkat tubuh korban ke dalam mobil Xenia BE 2433 YS, untuk kemudian dibuang di area perkebunan kopi di ‎wilayah Kecamatan Candiroto.

Saat eksekusi, kata dia, tersangka Permadi juga ada di rumah Agus, tapi bersembunyi di ruang lain. Usai korban dibawa pergi oleh Ambon dan Indarto, Permadi keluar dan membawa mobil Pick Up Suzuki (sebelumnya disebutkan Mitsubishi Colt 120 SS)‎ AA 1656 UY. "Mobil pick up dibawa pulang Permadi ke rumahnya di Banyuurip, sebelum kemudian dibuang ke sekitar perkebunan teh Tambi di Wonosobo," katanya. (AB)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.