Harlah NU dan Haul Akbar Ditegaskan Bukan Politik dan Kampanye


Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Wonosobo, Arifin Shidiq memberikan keterangan pers di salah satu rumah makan, kemarin.

WONOSOBO (FOKUSSABA)- Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Wonosobo, Arifin Shidiq menegaskan, penyelenggaraan acara Harlah NU dan Haul Akbar dengan mendatangkan KH Ma'ruf Amin di Alun-alun Wonosobo, Rabu (27/3) bukanlah kegiatan politik, bukan bagian dari kampanye Pilpres dan Pileg.

"Ini merupakan kegiatan keagamaan biasa yang telah rutin diselenggarakan di kalangan nahdliyin. Setiap tahun NU menyelenggarakan Harlah, tiada lain peringatan Hari Lahir ormas terbesar di Indonesia dan bahkan di dunia tersebut. Saat ini adalah Harlah ke-96 berdasarkan perhitungan kalender tahun hijriyah," ungkapnya.

Menurutnya, bagi warga NU menyelenggarakan acara Harlah adalah bagian dari rasa hormat dan ta'dzim kepada para ulama, terutama kepada para pendiri NU, wabil-khusus Hadlratus-Syaikh KH Hasyim Asy'ari. Adapun Haul telah menjadi tradisi keagamaan yang sangat penting dikalangan nahdliyin, tiada lain, untuk memperingati hari kematian.

"Yang kita peringati saat ini adalah al-maghfurlah KH Raden Abdul Fatah, wafat pada 21 Rajab 113 tahun yang lalu. Kita selenggarakan ini agar kita dapat mengambil pelajaran penting tentang keteladanan ulama dalam peran keagamaan dan kebangsaan sekaligus. Spirit perjuangan KH Raden Abdul Fatah yang kita peringati saat ini khususnya, haruslah menjadi teladan," tandasnya.

Tanpa kepeloporannya, kita tak dapat membayangkan, apakah pesantren di Wonosobo bisa seperti saat ini? KH Raden Abdul Fatah muda adalah orang yang pertama kali merintis pendirian pesantren di Wonosobo. Tepatnya di Sigedong, Tegalgot, Kepil, pada tahun 1834 Masehi. Bagi warga nahdliyin, pesantren adalah NU kecil, sedang NU adalah pesantren besar.

Disinilah nilai-nilai keislaman diinternalisasi dan diaktualkan, tanpa ada gesekan dengan tradisi lokal, tanpa mempertentangkan paham kebangsaan. Bahkan sebaliknya, memperoleh bobot keagamaan. Kehadiran Prof DR KH Ma'ruf Amin dalam kegiatan itu, dalam kapasitasnya sebagai Mustasyar PBNU dan Dewan Pengarah BPIP; juga H Yaqut Cholil Qoumas sebagai Ketua Umum GP Ansor.

"Hal itu tiada lain, untuk memberikan pencerahan tentang pentingnya ikhtiar kolektif untuk terus merawat tradisi, menjaga NKRI; mewujudkan Islam Rahmatal lil Alamin. Ini merupakan tema besar, tidak saja dalam kegiatan ini, tapi agenda pokok dalam kehidupan kebangsaan dan keberagamaan kita," ujar Ketua Panitia Penyelenggara Harlah NU dan Haul Akbar, Idham Cholid. (AB)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.