Menjajal Ratusan Menu Kuliner Lokal di Pasar Papringan Bernuansa Tempo Doeloe


NIKMATI KUDAPAN : Sejumlah pengunjung menikmati kudapan makanan tradisional yang dijajakan di Pasar Papringan di Dusun Ngadiprono, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Minggu (10/3) lalu.

INGIN menikmati suasana pasar tempo doeloe. Ini ada pasar yang sangat rekomended di wilayah Temanggung. Pasar Papringan namanya, tepatnya berada di Dusun Ngadiprono, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung. Keberadaan pasar ini sudah lama ada, namun saat ini namanya terus melambung. Menurut Koordinator Pasar Papringan, Joko Waluyo, pasar ini digelar setiap Minggu Wage dan Minggu Pon.

Awalnya konsep pasar tersebut untuk konservasi kebun bambu. Karena saat ini sudah banyak kebun bambu beralih menjadi tempat bangunan. Hal ini mengingat bambu merupakan material sangat bagus dan murah. Untuk pasar papringan ini menempati lahan seluas 2.500 meter persegi. Sejak dirintis sejak 2016, keberadaan Pasar Papringan ini terus diburu pelancong yang ingin berburu kuliner khas maupun rindu nuansa kuno.

Dalam setiap pagelaran baik Minggu Wage maupun Minggu Pon, antusiasme pengunjung sangat tinggi. Pengelola mencatat dalam sekali even kunjungan berkisar antara 3.000-4.000 orang. Setiap pagelaran pasar juga pengelola menyediakan sebanyak 30.000-40.000 keping uang pring yang hendak ditukarkan dengan rupiah. Karena, di tempat ini masyarakat yang hendak bertransaksi harus menggunakan keping uang pring tersebut.

Pada awal gelaran, pengelola hanya mengediaan keping uang pring berkisar 7.000 keping saja. Namun saat ini rata-rata dalam sekali pagelaran uang keping pring yang disediakan bisa mencapai 40.000 keping. Di pasar ini, selain aneka kerajinan dari pring, terdapat sebanyak 140-an menu kuliner khas Temanggung yang bakal menggoyang lidah penikmatnya. Semua dijajakan di pasar tempo doelo ini.

Sejumlah kuliner lokal yang legendaris hingga yang tak pernah dijumpai masyarakat sekarang ada disitu. Kulinet itu juga dijual sangat beragam dan semuanya makanan tradisional. Kuliner yang selalu dijajakan tersebut antara lain klenyem, bakwan jendal, gethuk gulung, puthu mayang, toklo, ketan bakar, persikan, jenang koro, mendut, nagasari, sego abang, gathot, tiwul, bandos, sego jagung, jenang dan lainnya.

Sejumlah makanan terbuat dari jagung juga ada, seperti jagung jali, apem pasung, kroket kentang, soto, bubur ayam dan lain-lainnya. Hal itu bertambah nikmat saat disuguhkan dari sikap ramah para penjualnya yang kebanyakan warga setempat. Keramahan orang pedesaan masih sangat kental di pasar ini. "Penjualnya ramah-ramah. Saya jadi betah berada lama-lama di sini," ujar Dhientia Andani (20), warga Tangerang itu.

Dia yang merupakan mahasiswi Kanazawa University Jepang itu mengaku datang di pasar ini untuk berwisata dan berbelanja. Tak hanya itu ia juga datang untuk melakukan penelitian. Ia sengaja datang bersama temannya beberapa hari sebelum digelar pasar ini dan tinggal di homestay yang ada. "Saya tahu dari Instagram teman-teman, kebetulan salah satu teman saya pengurus di sini," ujar dia. (AB)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.