Tiga Oknum Opang yang Lakukan Penganiayaan dan Perusakan Motor dan Atribut Driver Online Ditetapkan sebagai Tersangka


Kepala Bagian Operasi Polres Wonosobo Kompol Sutomo menyebutkan memberikan pengarahan kepada para driver ojek online yang mengawal pelaporan kasus penganiayaan dan perusakan sepeda motor dan atribut driver online.

WONOSOBO (FOKUSSABA)‎- Tiga oknum pengemudi ojek pangkalan, yang melakukan aksi perusakan motor dan atribut serta penganiayaan terhadap driver ojek online, ditetapkan sebagai tersangka. Pihak kepolisian berkomitmen untuk bersikap profesional dan tak tebang pilih dalam menangani perkara yang beberapa hari terakhir viral disejumlah media massa dan media sosial.

Kapolres Wonosobo AKBP Abdul Waras melalui Kasubbag Humas Polres Wonosobo, Iptu Heldan Pramoda Wardana menyebutkan, adanya penilaian polisi bertindak tak tegas dan permisif dalam menangani perkara ini tidaklah benar. Pihaknya menegaskan kepolisian tentu bersikap profesional dan tak tebang pilih dalam menindajlanjuti laporan dari masyarakat, termasuk dalam perkara ini.

Pihaknya mengakui, dalam laporan yang dilayangkan paguyuban ojol, terdapat empat nama yang diduga turut dalam melakukan perusakan barang dan penganiayaan. Keempatnya oknum ojek pangkalan yang dilaporkan juga sudah diperiksa dan dimintai keterangan oleh penyidik. Dari hasil pemeriksaan, tiga di antaranya terbukti melakukan tindak pidana perusakan barang atau penganiayaan.

Sementara, satu di antaranya tidak terbukti melakukan tindak pidana. "Ketiganya telah ditetapkan sebagai tersangka, karena cukup bukti, sementara yang satunya tidak terbukti secara kuat, karena itu kemudian dilepas," ungkapnya. Dia juga menegaskan, dilepasnya satu orang terduga pelaku, bukan karena alasan 'kemanusiaan' seperti kabar yang santer beredar. Namun, murni karena dalam proses hukum yang bersangkutan tidak ditemukan bukti yang cukup kuat turut melakukan tindak pidana.

Sementara itu, Kuasa Hukum Paguyuban Driver Online (Pandowo), Teguh Purnomo meminta polisi harus bertindak tegas dalam menangani kasus ini. Teguh berharap, polisi tak menggunakan alasan kondusivitas wilayah untuk tak memproses kasus ini secara tuntas. "Harus tegas, jangan permisif karena alasan kondusifitas wilayah," ungkap pengacara di Kantor Hukum Teguh Purnomo di Kebumen itu.

Sementara itu, Sekretaris Paguyuban Ojek Online Wonosobo (Pandowo), Arif Priyanto, mengatakan saat melakukan operasional sesuai standard operasional prosedur (SOP) pada Senin (11/3) sejumlah pengemudi ojek pangkalan (opang) melakukan gesekan kepada ojek online (ojol) di sejumlah lokasi. Gesekan terjadi di wilayah kota Wonosobo, Senin (11/3) sekitar pukul 11.00. "Ada tiga penganiayaan. Dua kasus di Alun-alun yang pagi hari, satu kasus di Jaraksari," ujarnya.

Opang Jaraksari, kata dia, melakukan persekusi driver kami padahal tidak sedang ngojek dan tidak beratribut. Akibat gesekan tersebut dua driver mengalami luka ringan, satu unit sepeda motor dan dua buah helm dilaporkan rusak. Persitiwa itu bermula saat para pengemudi ojol kembali beroperasi, sesuai SOP yang telah ditetapkan oleh aplikator.‎ "Insiden itu sudah kami laporkan ke pihak kepolisian, kami lengkapi dengan hasil visum juga," ucap Arif.

Sementara, ‎Sekretaris Peguyuban Ojek Pangkalan Wonosobo (POKW), Wayitno, mengatakan ‎pihaknya berkomitmen terhadap surat edaran dari dinas terkait tertanggal 4 Januari 2019 tersebut. Menurutnya, beroperasinya ojol di Wonosobo melanggar aturan dan ilegal. "Beroperasinya ojol itu ilegal, Pemerintah Kabupaten Wonosobo belum mengizinkan beroperasinya ojol. Karena itu, insiden kemarin aksi spontanitas dan solidaritas dari teman-teman opang," katanya.‎ (AB)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.