Dispaperkan Wonosobo Bakal Bangun RPU Berstandar Asuh


Kepala Dispaperkan Wonosobo, Abdul Munir menyerahkan bantuan alat kepada salah satu pedagang unggas di wilayah Wonosobo, baru-baru ini.

WONOSOBO (FOKUSSABA)-
Dinas Pangan Pertanian Peternakan dan Perikanan (Dispaperkan) Kabupaten Wonosobo tengah berupaya mematangkan rencana membangun rumah pemotongan unggas (RPU) yang nantinya akan menghasilkan produk pangan asal hewan berstandar aman sehat utuh halal (Asuh). Kegiatan rencananya menggandeng Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Wonosobo.

Kepala Dispaperkan Wonosobo, Abdul Munir menyebutkan rencana pembangunan RPU standar halal tersebut akan secepatnya disosialisasikan ke berbagai pihak. “Setidaknya untuk tahap awal kami sudah mengantongi tiga nama pengusaha yang bersedia merubah tempat pemotongan ayam menjadi rumah potong unggas standar halal sesuai syarat MUI,” terang Munir ketika ditemui di kantornya, belum lama ini.

Ihwal munculnya gagasan pembuatan RPU tersebut, menurut Munir disebabkan banyaknya temuan di lapangan saat melakukan inspeksi terhadap produk pangan asal hewan, ternyata masih kurang memenuhi syarat Asuh. Banyak daging ayam yang diperjual belikan di pasar-pasar tradisional diketahui dipotong dengan tidak sempurna, sehingga syarat halal bagi konsumen menjadi tidak terjamin.

Dari hasil diskusi dengan sejumlah pihak, termasuk MUI hal tersebut kemudian memicu beragam usulan dan bahkan menjadi bahan analisa kesehatan masyarakat Wonosobo. “Ketua MUI Wonosobo, KH Muchotob Hamzah bahkan menyebut kualitas produk pangan asal hewan seperti ayam potong yang kurang baik dan tidak memenuhi standar halal itu bisa saja menjadi salah satu penyebab banyaknya pasien gagal ginjal dan bahkan perilaku keseharian warga,” tuturnya.

Analisa tersebut, dikatakan Munir kemudian berkembang menjadi gagasan untuk melakukan upaya inspeksi ke sejumlah tempat pemotongan ayam yang terdaftar di Dispaperkan. Hasilnya, petugas dari dinas melaporkan bahwa di tempat-tempat pemotongan ayam, banyak tukang potong ayam yang belum menguasai teknik pemotongan ayam secara sempurna.

Selain itu, kondisi lingkungan di sejumlah rumah potong ayam diketahui jauh dari kata ideal, karena instalasi pembuangan limbah bercampur dengan tempat potong, sehingga kemungkinan bakteri-bakteri dari limbah mencemari daging ayam sangat besar. Bersama MUI dan Kementerian Agama Kabupaten pula, pihak Dinas Paperkan diakui Munir sempat membuka program pelatihan bagi juru sembelih halal (Juleha).

“Kami membawa para Juleha dari berbagai organisasi seperti NU, Muhamadiyah, Rifaiyah, LDII dan MTA untuk mengikuti pelatihan penyembelihan hewan secara halal di Balai Besar Pelatihan Peternakan di Malang, Jawa Timur. Harapan kami nantinya sekembali ke Wonosobo mereka dapat mengajarkan ilmunya di lingkungan masing-masing,” bebernya.

Selanjutnya, setelah upaya peningkatan kapasitas SDM Juleha, Kepala Bidang Peternakan, drh Sidik Driyono menyebut mereka juga mesti difasilitasi rumah potong yang sesuai standar higienitas produk pangan untuk diperjual belikan di masyarakat. “Dari sekitar 101 rumah pemotongan ayam yang ada di Wonosobo, sementara ini sudah ada 3 orang pemilik yang bersedia nantinya menjadi percontohan tempat pemotongan unggas stadar halal,” terang Sidik.

Ia berharap, upaya pematangan dan sosialisasi terkait rencana tersebut secepatnya dapat dilakukan, termasuk di depan Bupati dan jajaran pimpinan dewan agar dapat segera terwujud. (AB)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.