17 Tahun Kakek Wardi Alami Lumpuh, Buta dan Tuli, Butuh Uluran Tangan Masyarakat


Koordinator Program Eksodus, Achmad Sofiyudin bersama sejumlah dermawan menyerahkan bantuan kepada keluarga Kakek Wardi (61), warga asal Dusun Clapar, Desa Kalimanggis Kecamatan Kaloran Kabupaten Temanggung, Sabtu (25/5) lalu.

NASIB malang menimpa Kakek Wardi (61), warga asal Dusun Clapar, Desa Kalimanggis Kecamatan Kaloran Kabupaten Temanggung. Ia mengalami lumpuh, buta dan tuli. Ia juga merupakan golongan masyarakat ekonomi kurang mampu. Ditengah keterbatasannya, sejumlah pemuda yang tergabung dalam Ekosistem Sosial Dusun (Eksodus) Jawa Tengah telah bergerak mengurusnya.

Saat ini ia telah mendapat Kartu Indonesia Sehat (KIS) bersama istri dan anaknya. Kartu tersebut akan digunakan untuk mendapat akses pengobatan saat mereka mengalami sakit. "Pada saat kami menyerahkan KIS kepada keluarga Mbah Wardi, Sabtu (25/5), ikut serta dua orang dermawan dari Kota Salatiga," ungkap Koordinator Program Eksodus, Achmad Sofiyudin.

Dua orang dermawan itu, yakni Dian, yang merupakan orang penting di salah satu organisasi perangkat daerah (OPD) Pemerintah Kota Salatiga dan Prima seorang guru. Mereka terketuk hatinya ikut meringankan beban Mbah Wardi dan keluarganya dengan memberi sumbangan sembako lengkap, pakain lebaran, dan uang untuk periksa kesehatan.

Dia menjelaskan, Kakek Wardi dan istrinya Nenek Tungiyah (52) hidup dalam ketidakberdayaan dan tragisnya berada di rumah reyot yang membahayakan karena hampir ambruk. Kakek Wardi dan Nenek Tungiyah ditemukan anggota Eksodus saat berkegiatan pertanian. Keduanya hidup sangat memprihatinkan sekali. Selama 17 tahun Kakek Wardi tak bisa berjalan alias lumpuh kaki.

Bukan hanya itu, Kakek Wardi juga mengalami sakit permanen yakni mengalami buta dan tuli. Sang Istri yang semakin menua juga tidak berdaya sekalipun hanya dalam urusan dapurnya. Walhasil, urusan makan pun sangat kerepotan. Mereka berdua baru mulai terima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) sejumlah Rp 400.000 dalam tiga bulan.

Uang sebesar Rp 400.000 dari pemerintah tentu tidak menjadi solusi, karena kebutuhan berobat rutin, biaya hidup dan yang penting juga rumahnya harus sehat dan tidak membahayakan penghuninya. "Setelah kami melihat keadaan tersebut, Kakek Wardi dan Istrinya harus diberikan pendampingan agar hidup lebih tertata," beber Sofiyudin.

Bantuan rutin diberikan untuk masa kurun waktu tertentu. Pihaknya dari Organisasi Eksodus (Odesa Indonesia http://odesa.id ) bermaksud mendampingi kehidupan Kakek Wardi dan Istrinya dengan pendampingan ekonomi dan juga pembangunan rumah tidak layak huni. "Yang kami harapkan dari peduli sehat ini setidaknya ada donasi untuk menyokong kesehatan mereka berdua," beber dia.

Bulan Mei ini pihaknya sudah membantu membereskan urusan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan bagi keduanya. Di luar biaya pengobatan, ada keperluan anggaran sokongan hidup dengan bahan makan pokok dan bahan pangan bergizi serta biaya transportasi untuk pengobatan. "Ayo kita bantu mereka," ajaknya. (AB)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.