Anak-anak Tuna Rungu di Temanggung Diajari Cara Berkarya Manfaatkan Limbah Kain


MEMBUAT BROS: Para crafter dari Komunitas Temanggung Bikin Karya (Tembikar), mengajari anak-anak Pesantren Tuna Rungu Abata Temanggung, kemarin.

TEMANGGUNG (FOKUSSABA)- Untuk mengisi bulan suci Ramadan, Komunitas Temanggung Bikin Karya (Tembikar), yang berisi para crafter sebutan untuk para perajin dari berbagai karya melakukan kegiatan sosial di Pesantren Tuna Rungu Abata Temanggung. Mereka memberikan pelatihan kepada para penyandang disabilitas rungu ini membuat kerajinan berupa bros yang merupakan benda perhiasan dekoratif dari limbah berupa kain perca.

Peni Dinar salah satu pegiat Komunitas Tembikar mengatakan, kegiatan sosial ini dilakukan semata untuk memberikan keterampilan secara gratis kepada anak-anak berkebutuhan khusus di Abata. Mereka memandang anak-anak tersebut perlu mendapatkan keterampilan yang bisa menunjang kehidupan di masa depannya.

"Untuk mengisi Ramadan Tembikar bekerjasama dengan Pondok Pesantren khusus putri Tuna Rungu Abata memberikan pengetahuan sekaligus praktik keterampilan membuat bros. Ini sebagai awalan sekaligus membumikan Tembikar di masyarakat,"ujarnya Senin (20/5).

Tak dinyana kendati berkebutuhan khusus namun anak-anak ini tak kalah dengan anak normal pada umumnya. Hampir tidak ada yang menemui kesulitan, meskipun dalam pengantarnya perlu pendampingan para ustadzah Abata yang sesekali menterjemahkan kalimat yang dimaksud dari para crafter Tembikar.

"Ada 16 anak tuna rungu yang ikut membuat bros, ternyata mereka hebat-hebat sama sekali tidak ada kendala bahkan sangat antusias, satu bros bisa diselesaikan dalam waktu kurang lebih 30 menit. Hanya sesekali saja mereka bertanya kalau menemui kesulitan, kami bawa bahan dari kain perca. "katanya.

Intan Herwindra dan Ena Kharisma crafter lain yang juga pengelola Bumi Crafting ini menuturkan, pembuatan bros juga tidak memerlukan biaya banyak sebab bahan bakunya memanfaatkan kain perca atau limbah dari penjahit yang sudah tidak digunakan. Secara tidak langsung hal ini mengurangi sampah dengan memanfaatkannya menjadi sesuatu yang berdaya guna dan berdaya hasil.

"Kendati memiliki kekurangan tapi anak-anak tuna rungu ini jika memiliki keterampilan tentu akan lebih baik. Harapan kami dengan Tembikar menularkan ilmu kelak mereka akan hidup lebih baik, syukur bisa mandiri karena sudah memiliki keahlian,"katanya.

Aqila (9), salah satu penyandang tuna rungu Pesantren Abata mengaku senang diajari membuat bros oleh kakak-kakak dari Tembikar. Dia yang berasal dari Bogor Jawa Barat ini merasa tidak menemui kesulitan saat membuat bros, hanya saja perlu kejelian.

"Senang diajari membuat bros, ini langsung saya pakai brosnya cantik. Sekarang saya sudah bisa membuat sendiri setelah diajari sama Kak Nana Mardyana. Cita-cita saya menjadi guru,"kata Aqila sedikit terbata-bata, sembari menebar senyum.

Kepala Pesantren Abata Temanggung Nur Sauminah menuturkan, memang 24 anak di Abata dari rentang usia 6 sampai 14 tahun sangat membutuhkan keterampilan. Hal itu untuk mendukung pendidikan di Abata yang berbasis kurikulum pesantren yang harus hafal Alquran juz 30, bisa membaca tulis Alquran, doa sehari-hari, termasuk melatih untuk berpuasa.

"Alhamdulillah kami sangat senang sekali dan sangat berterimakasih, sebab anak-anak sangat butuh keterampilan, ini yang kami butuhkan karena di Indonesia itu belum begitu "care" dengan anak-anak disabilitas khususnya tuna rungu, harapan kami bisa mandiri. Saya lihat subhanallah tidak ada satupun yang nangis, kecewa atau putus asa. Sebab kalau pas pelajaran biasa saat sesi keterampilan anak-anak ada yang mengerjakan tetapi kurang tlaten kadang-kadang jadi nangis,"katanya. (AB)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.