Istri Presiden RI ke 4 Terus Sampaikan Pesan Damai untuk Seluruh Masyarakat


Istri almarhum Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid, Shinta Nuriyah Wahid menyampaikan pesan damai saat kegiatan Silaturahmi Kebangsaan dan Buka Puasa Bersama di Halaman Mapolres Wonosobo Kamis (16/5) petang.

WONOSOBO (FOKUSSABA)- Istri almarhum Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid, Shinta Nuriyah Wahid tak henti-hentinya menyerukan pesan damai kepada semua golongan masyarakat. Dia mengaku bangga dengan warga Wonosobo yang sejak dahulu selalu damai. Hal itu menjadi simbol keberagaman sebagai warga negera yang baik. Terbukti dengan adanya agenda lintas kepercayaan di Wonosobo yang selalu sukses, termasuk buka maupun sahur bersama di momen Ramadan.

Hal itu disampaikan Shinta saat kegiatan Silaturahmi Kebangsaan dan Buka Puasa Bersama di Halaman Mapolres Wonosobo Kamis (16/5) petang. Kunjungan yang telah dilakukan ke-14 kalinya di Wonosobo itu sengaja dilakukan untuk melakukan buka dan sahur bersama warga kabupaten berslogan Asri ini. Kunjungan juga dilakukan untuk menyampaikan pesan damai dan menyalami para pemeluk agama dan kepercayaan di Wonosobo.

Shinta juga mengingatkan adanya perintah untuk saling mengenal dan rukun di Al Quran dan menyayangkan terjadinya fitnah dan kebohongan akhir-akhir ini. Saat Ramadan, Shinta memang selalu menggelar sahur bersama di masjid-masjid yang ada di pelosok negeri dan menyapa masyarakat dari berbagai elemen maupun latar belakang agama dan kepercayaan. "Tahun ini ada 36 titik yang saya sambangi," terang dia.

Pada kesempatan itu, hadir perwakilan umat beragama di Wonosobo, baik Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu dan Ahmadiyah, kaum disabilitas juga tampak hadir dalam kesempatan itu. Semua ikut meramaikan buka bersama di Mapolres Wonosobo ini. "Pekerjaan saya setiap bulan puasa, mengajak orang sahur. Mengapa, karena yang mengadakan buka bersama sudah banyak sekali. Saya sudah berkeliling ke banyak daerah se-Indonesia," tutur dia.

Dia ingin bertemu masyarakat ditemani bupati, polres, dandim, gubernur, hingga suster dan monsinyour di banyak tempat. Dia juga pernah di kolong jembatan hingga di pasar bersama buruh dan mbok-mbok bakul untuk menyapa dan menyalami warga. "Kemajemukan dan keberagaman masyarakat Indonesia merupakan ciri khasnya sejak lama. Bahkan latar belakang kesukuan hingga agama menjadi dasar dari persatuan itu sendiri," terangnya.

Menurut dia, Indonesia mempunya tujuh agama yang diakui, termasuk konghuchu dan baha’i. Indonesia juga memiliki banyak sekali suku, karena kita memang tinggal di Indonesia, maka kita saudara. "Apa yang terjadi selama ini, banyak dari kita yang bertengkar ialah hal yang seharusnya membuat kita malu karena kita saudara,” ungkap dia.

Koordinator Gusdurian Wonosobo, Ahmad Baehaki menyebutkan, sambutan masyarakat dan perwakilan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) sangat baik. Bahkan, semua perwakilan umat beragama hadir. Dukungan dari Kodim dan Polres juga sangat besar. "Semoga adanya agenda ini menjadi salah satu hal yang membuat Wonosobo istimewa dan sebagai kebanggaan bisa hidup rukun di sini," ujarnya.

Senada Kapolres Wonosobo AKBP Abdul Waras menambahkan gelaran kegiatan bersama istri almarhum Presiden ke 4 sengaja dilakukan untuk menyatukan kembali semangat persatuan dan kesatuan pasca pemilu 2019. "Tidak bisa dipungkiri kemarin masih saja ada perselisihan baik kubu 01 atau 02 pasca pemilu. Mudah-mudahan dengan ini tidak adalagi 01 atau 02, adanya 03 yakni persatuan Indonesia," ungkapnya. (AB)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.