Kembalikan Kejayaan Petani, Kualitas Tembakau Temanggung Diminta Dipertahankan


IKUTI ARAK-ARAKAN: Sejumlah petani tembakau mengikuti kegiatan arak-arakan Slametan Wiwit Tembakau Bhumi Phala 2019, belum lama ini.

TEMANGGUNG (FOKUSSABA)- Bupati Temanggung Muhammad Al Khadziq meminta kepada para petani tembakau mempertahankan kualitas tembakau asli Temangung. Hal itu dinilai wajib untuk dipertahankan, jika memang kejayaan petani tembakau di tahun 1970-1980-an bisa kembali terulang. “Di era 70an memang tembakau Temanggung sangat berjaya, dan itu karena tembakau Temanggung masih murni dan kualitasnya bisa dipertanggungjawabkan,” ungkapnya.

Menurut dia, upaya petani tembakau untuk menjaga kualitas tembakau, yakni dilakukan dengan cara menjaga kemurian tembakau lokal asli Temanggung. Tidak bisa dipungkiri, dalam beberapa tahun terakhir, kualitas tembakau Temanggung semakin menurun. Atas kondisi itu, kemurnian tembakau asli Temanggung sudah dipertanyakan. "Tidak sedikit petani yang mencampur tembakau dengan tembakau dari luar daerah," imbuh Al Khadziq.

Dalam proses pengelohannya, sejumlah petani bahkan ada juga yang mencampur tembakau dengan bahan lainnya, seperti gula dan beberapa bahan lainnya. Tindakan yang dilakukan oknum petani seperti ini, dinilainya sudah sangat jelas mengurangi kualitas tembakau asli Temanggung. Karenanya, Bupati tak henti-hentinya mengajak semua pihak dalam dunia pertembakaun di Temanggung, bersama pemerintah daerah, untuk kembali ke trek yang lurus.

Lebih lanjut, orang nomor satu di Temanggung itu menjelaskan, dengan kembali pada trek yang lurus, kepentingan semua pihak terkait dalam pertembakauan akan terlindungi. “Kita ingin kepentingan petani terwujud, kepentingan pedagang, grader, industri terwujud. Tak yang saling dikalahkan. Semoga kedepan tidak ada tembakau Temanggung yang dicampur-campur dengan tembakau dari daerah lain atau dicampur gula,” harapnya.

Salah satu petani tembakau di Kecamatan Kledung, Agus Haryanto (39) menuturkan, sudah tiga kali musim tanam ini dirinya sudah berusaha mempertahankan kemurnian tembakau dengan menanam benih tembakau Kemloko. Benih itu merupakan benih tembakau asli Temanggung yang sudah dikembangkan pemerintah. Mayoritas petani tembakau di lereng Gunung Sindoro saat ini sudah kembali menanam benih Kemloko.

Menurutnya, baik Kemloko satu, dua, tiga hingga Kemloko 4, sudah ditanam sejak tiga tahun lalu. Namun saat panen raya tiba, petani tidak bisa berkutik manakala pabrikan sudah membeli tembakau dengan harga yang jauh di bawah harapan petani. “Ini yang menjadi persoalan, setiap panen raya harga tidak pernah bisa stabil. Apalagi pada panen raya 2018 lalu, selain kualitas tembakau dari petani sudah bagus dan cuaca saat panen raya juga sangat mendukung," ujarnya.

Namun, kata dia, harga tembakau tidak sesuai dengan kualitas dan harapan petani. Biasanya di akhir panen raya itu kan menjadi harapan petani, kualitas tembakaunya sudah terbaik, didukung dengan cuaca yang bagus, tapi harganya anjlok. Tahun 2018 kemarin tembakaunya dengan grade F hanya di beli Rp 80 ribu saja. "Semoga kondisi seperti ini tidak terulang lagi di panen raya 2019 ini, pabrikan bisa membeli tembakau sesuai dengan kualitasnya," tuturnya. (AB)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.