Sebagian Warga Wonosobo Rasakan Gempa Pangandaran Berkekuatan 5,9 SR


Ilustrasi

WONOSOBO (FOKUSSABA)- Gempa bumi berkekuatan 5,9 Skala Richter (SR) yang terjadi di wilayah Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat, Sabtu (18/5) pagi, dirasakan sebagian warga di wilayah Wonosobo. Sejumlah warga mengaku merasakan getaran gempa bumi tersebut sekitar pukul 08.51.

Meskipun beberapa detik, hal itu membuat warga di kabupaten berslogan Asri itu kaget. Salah satu dirasakan warga Desa Dempel, Kecamatan Kalibawang, Lutviyani. Dia mengatakan, saat gempa dirinya sedang berada di dalam kamar. Walaupun tidak terlalu lama, namun gempa sempat membuat kaget dan takut.

Menurut dia, tiba-tiba saja terjadi getaran dua kali dengan jeda waktu sekitar dua sampai tiga detik saja. Walaupun kaget, tetapi tidak sempat keluar rumah karena gempa tidak berlangsung lama. "Hanya terjadi sekitar beberapa detik saja. Sempat membuat kaget sih, tapi saya tidak lari keluar rumah," tutur Lutviyani.

Sementara itu, salah satu warga Kelurahan Andongsili, Kecamatan Mojotengah, Andika tidak merasakan gempa tersebut. Namun setelah menanyakan ke teman-temannya, banyak yang merasakan getaran gempa tersebut. "Saya si tidak merasakan, tapi teman-teman saya katanya merasakan ada gempa," ujar dia.

Sejumlah relawan bencana yang tergabung dalam Group WhatsApp SAR/TRC RPB Selomerto juga sempat mengungguh ada yang merasakan gempa bumi. Namun demikian hingga saat ini belum ada catatan akibat gempa bumi Pengandaran di Wonosobo. Berdasarkan rilis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terjadi gempa bumi tektonik M 5,9 di Kabupaten Pangandaran pukul 08.51.

Gempa terjadi wilayah Samudera Hindia Selatan Jawa diguncang gempabumi tektonik. Hasil analisis BMKG menunjukkan informasi awal gempabumi ini berkekuatan M=5,9 yang selanjutnya dilakukan pemutakhiran menjadi M=5,6. Episenter gempabumi terletak pada koordinat 9,63 LS dan 108,51 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 212 km arah selatan Kota , Kabupaten Pangandaran, Propinsi Jawa Barat pada kedalaman 33 km.

Menurut laporan Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, gempabumi selatan di Jawa-Bali-Nusa Tenggara ini, dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, tampak bahwa gempabumi berkedalaman dangkal ini diakibatkan oleh aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia yang menyusup ke bawah Lempang Eurasia.

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi ini dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan jenis sesar turun (normal fault). Guncangan gempabumi ini dilaporkan dirasakan di daerah Pangandaran, Tasikmalaya, Cilacap, Banyumas, Karangkates, Blitar, Tulungagung dan Kediri II-III MMI, di Banjarnegara, Kebumen, Bantul dan Solo II MMI.

Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempabumi tersebut. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempabumi tidak berpotensi tsunami. Hingga pukul 09.25, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya satu aktivitas gempabumi susulan (aftershock). Kepada masyarakat dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Pastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi (Instagram/Twitter @infoBMKG), website (http://www.bmkg.go.id atau inatews.bmkg.go.id), atau melalui Mobile Apps (IOS dan Android): wrs-bmkg (user pemda, pwd pemda-bmkg) atau infobmkg. (AB)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.