Balon Udara Liar Kembali Ganggu Keselamatan Penerbangan, 34 Laporan Pilot Melihat Balon di Ketinggian Pesawat


Kapolres Wonosobo AKBP Abdul Waras bersama anggotanya mengamankan balon udara yang jatuh di area lahan pertanian warga, Jumat (7/6) pagi.

WONOSOBO (FOKUSSABA)- Balon udara tradisional liar kembali mengganggu keselamatan penerbangan. Hingga hari kedua Lebaran tahun ini, terdapat 34 laporan pilot yang melihat balon di ketinggian bervariasi. “Kemarin pada hari pertama lebaran, kami mendapat 28 pilot report yang melihat balon udara dan membahayakan keselamatan penerbangan. Kemudian kemarin ada penambahan 6 laporan pilot lagi," ungkap Direktur Utama AirNav Indonesia, Novie Riyanto di Jakarta dalam siaran persnya, Jumat (7/6).

Pihaknya menghimbau masyarakat untuk tidak menerbangkan balon udara liar, karena sangat membahayakan keselamatan penerbangan. Sebagaimana diketahui di sejumlah daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur terdapat kebiasaan menerbangkan balon udara saat bulan Syawal. Untuk mengakomodasi hal tersebut, Kementerian Perhubungan telah menerbitkan PM No 40 tahun 2018 tentang Penggunaan Balon Udara Pada Kegiatan Budaya Masyarakat.

Pada PM 40, balon udara tradisional boleh diterbangkan dengan ketentuan ditambatkan dengan tali maksimum 125 meter dari tanah, ukuran balon maksimum diameter 4 meter dan tinggi 7 meter. Selain itu, setiap kegiatan penerbangan balon harus meminta izin kepada otoritas bandara dan pemerintah daerah. Disampaikan Novie, pihaknya sudah melakukan sosialisasi ke daerah-daerah yang memiliki kebiasaan menerbangkan balon.

“Setiap tahun kami sosialisasi, tahun ini sepanjang bulan Ramadan yang lalu kami sosialisasi ke Wonosobo, Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan, Kabupaten Batang, hingga ke Ponorogo, Jawa Timur,” terang Novie. Sosialisasi dilakukan AirNav lewat berbagai cara, mulai dari kecamatan, komunitas balon, pemuka agama hingga ke sekolah-sekolah. Bahkan, AirNav akan menggelar Java Balon Festival 2019 di Pekalongan dan Wonosobo pekan depan.

“Sebagai bagian dari upaya sosialisasi balon udara yang aman dan sesuai ketentuan PM 40 tahun 2018, kami mengadakan festival balon. Ini yang kedua setelah tahun sebelumnya kami adakan. Tujuannya adalah agar masyarakat tidak lagi menerbangkan balon liar, tapi ikit di festival ini,” jelasnya. (AB)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.