Harga Lebih Mahal, Kopi Lanang Temanggung Tetap Diminati


Seorang perajin kopi tengah melakukan pengemasan jenis kopi lanang untuk memenuhi permintaan masyarakat dari dalam negeri maupun luar negeri, kemarin.

TEMANGGUNG (FOKUSSABA)- Produk kopi lanang Temanggung kian diminati masyarakat dari luar Pulau Jawa. Meskipun dari segi jumlah permintaan jenis kopi ini tidak terlalu banyak, akan tetapi minat masyarakat membeli produk kopi ini tak memperhatikan harga jualnya. Padahal jika dibandingkan dengan harga kopi bubuk merek terkenal yang tidak sampai Rp 100.000 per kilogram, harga kopi lanang mencapai Rp 170.000 per kilogram.

Pemilik produk Mulia Kopi, warga Desa Muncar, Kecamatan Gemawang, Temanggung, Sarwadi menyebutkan, jenis kopi lanang memang akhir-akhir ini semakin diminati masyarakat pecinta kopi dari penjuru tanah air. "Bahkan bukan hanya di dalam negeri, tetapi kopi lanang juga diminati masyarakat dari luar negeri," ungkap Sarwadi kepada awak media di tempat usahanya, kemarin.

Dia mengatakan untuk dalam negeri permintaan kopi lanang bukan hanya dari wilayah Pulau Jawa, tetapi juga ada permintaan masyarakat dari wilayah Kalimantan. Untuk permintaan jenis kopi lanang untuk dalam negeri, rata-rata sekitar 15 kilogram per bulan, dengan harga masing-masing Rp 170.000 per kilogram. Permintaan produk kopi lanang itu, baik sangrai maupun bubuk.

"Sebagai perbandingan, harga kopi bubuk merek terkenal tidak sampai Rp 100.000 per kilogram. Untuk permintaan luar negeri, kami melalui orang ketiga. Sementara ini dari Korea, permintaan belum rutin, tetapi sekali pengiriman 25 kilogram. Kopi lanang sering dianggap istimewa mereka yang menyukai cita rasa tidak biasa. Jika menyukai kopi-kopi langka maka kopi lanang bisa menjadi salah satu pilihan tepat," tuturnya.

Lebih lanjut dia menyebutkan, pada umumnya dalam kulit ceri kopi ada dua biji atau dikotil, namun juga ada yang satu biji atau monokotil yang disebut kopi lanang. Kandungan cita rasa kopi sebenarnya lebih banyak pada kopi lanang dan kopi lanang lebih pekat. "Selama ini kami tidak ada kendala untuk mendapatkan kopi lanang," terang Sarwadi.

Karena, lanjut dia, di setiap tanaman kopi ada kopi lanang, meskipun jumlahnya sedikit. "Tidak ada kesulitan untuk mendapatkan kopi lanang, sangat banyak di tingkat petani, karena biasanya petani menyortir jenis kopi ini," katanya. Pihaknya berharap, permintaan kopi ini kedepan semakin meningkat dari seluruh penjuru tanah air. (AB)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.