Indonesia Banyak Masalah, Dinilai Karena Manusia Tak Pagari Hatinya


Bhante Dhammasubho Mahathera melakukan pemberkatan kepada para umat Buddha saat menghadiri peringatan Waisak di Vihara Dhamma Sagara, Desa Nglarangan, Kecamatan Kaloran, Temanggung Rabu (19/6) sore.

TEMANGGUNG (FOKUSSABA)- Bhante Dhammasubho Mahathera menilai sejumlah persoalan yang ada di negara Indonesia, utamanya di dunia disebabkan karena manusia tidak bisa memagari hatinya. Dunia akan selamat oleh orang-orang yang malu berbuat jahat, dan takut akan akibatnya. Jika orang-orang ini masih tidak malu berbuat jahat dan tidak takut akan akibatnya jangan mimpi, mimpi saja jangan dunia akan menjadi selamat.

Penegasan itu disampaikan Bhante Dhammasubho saat menghadiri peringatan Waisak di Vihara Dhamma Sagara, Desa Nglarangan, Kecamatan Kaloran, Temanggung Rabu (19/6) sore. Dalam kesempatan itu, dia memang memberikan pesan kepada para umat Buddha agar senantiasa memagari hatinya untuk menyelamatkan dunia. "Jika ingin selamat, maka malu jika berbuat jahat," tutur dia.

Dijelaskan, orang-orang akan selamat bukan dengan pagar kawat berduri, akan tapi dengan pagar hati yang membuat seseorang takut dengan dirinya sendiri. Hal inilah yang selalu dia sampaikan dalam memperingati hari Waisak kepada para umat Buddha. “Mari kita membangun pagar hati, melindungi kehidupan karena seseorang akan selamat bukan karena pagar kawat berduri tapi dengan pagar hati," tandasnya.

Menurut dia, jika semua orang di dunia ini masing-masing membangun pagar hati maka dunia akan aman. Jika agama dijadikan menjadi alat politik, dijadikan mesin, didorong-dorong, ditarik-tarik untuk kepentingan tertentu, maka agama itu sendiri justru akan kehilangan daya, kehilangan cintaras, bahkan mungkin tidak kenal toleransi dan kerukunan. "Jika dijadikan alat pemenangan, maka nanti agama ukurannya menang atau kalah, jika tidak sama dengannya itu musuh,” tutur dia.

Senada, Ketua Panitia Peringatan Waisak, Feri Risiono mengungkapkan, kegiatan peringatan Waisak yang digelar di Vihara Dhamma Sagara Desa Nglarangan Kecamatan Kaloran tersebut diikuti oleh ratusan umat Buddha dari seluruh wilayah di Kabupaten Temanggung. “Selain itu ada juga jamaah yang bersal dari kecamatan di kabupaten di sekitar Temanggung seperti Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang,” terangnya.

Dalam kesempatan itu, selain upacara pemberkatan, rangkaian kegiatan peringatan Waisak tersebut juga akan disertai dengan pementasan wayang kulit semalam suntuk. Pihaknya berharap, di momen Waisak ini umat Buddha bisa memberikan contoh yang positif kepada setiap orang. "Contoh positif yang dapat diteladani adalah pengembangan cinta-kasih kepada setiap makhluk hidup," imbau Feri. (AB)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.