Komunikasi dan Koordinasi Ditingkatkan, Pimpinan Daerah Tak Ingin Kecolongan Ada Penerbangan Balon Udara Ilegal


Sejumlah pimpinan daerah dan pimpinan kecamatan melakukan sosialisasi penerbangan balon udara agar tidak diterbangkan sembarangan, kemarin.

WONOSOBO (FOKUSSABA)- Para Camat beserta jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkompimca) harus siap tidak disukai masyarakat. Pengawasan dan pengamanan balon udara tradisional liar perlu dilakukan, mengingat ada resiko lebih besar, yakni kecelakaan penerbangan karena balon udara tradisional.

Kapolres Wonosobo AKBP Abdul Waras meminta para Camat beserta jajaran Forkopimca harus aktif sampai ke tingkat desa dan dusun atau kampung, bahkan sampai tingkat RW dan RT, untuk memberikan himbauan dan melakukan pantauan.

Selain itu, mereka diminta untuk melakukan pendataan, wilayah mana saja yang kerap melakukan penerbangan balon udara tradisional, termasuk dengan nama orang dan alamatnya. "Setelah itu, segera dibuat tim khusus, untuk melakukan pantauan. Jika perlu dibuat group whatsApp (WA), agar memudahkan koordinasi jika ada temuan, sehingga tim khusus ini nantinya bisa bekerja secara sinergis," pintanya.

Ditambahkan Kapolres, saat ini modus penerbangan balon udara sudah mengalami perubahan, jika dulu diterbangkan di lapangan, sekarang di halaman masjid pun bisa dilakukan. Pihaknya sangat mendukung, jika dari komunitas balon udara tradisonal di kecamatan-kecamatan, akan membuat festival balon udara tradisional, namun syaratnya balon harus ditambatkan.

Pihaknya juga siap membantu menyediakan doorprize, agar tidak ada pihak yg menyalahi aturan. Untuk penyitaan balon udara tradisional, jika ada temuan, dari Polres dan Kodim siap akan bertindak sesuai regulasi. Dari organisasi pimpinan daerah (OPD), khususnya kecamatan, cukup
mendampingi, khususnya dalam tindakan preventif.

Dandim 0707 Wonosobo, Letkol Czi Fauzan Fadli menambahkan agar semua pihak bekerja serius dan mengedepankan komunikasi dan koordinasi, sehingga tahun ini diharapkan tidak ada kecolongan, yang ujungnya Wonosobo tidak lagi diprotes pihak penerbangan nasional saja, tapi juga internasional.

Berkaca dari kejadian tahun lalu, AirNav menemukan ada 70 laporan penerbangan balon udara tradisional. Atas kondisi itu, jalur penerbangan sempat dialihkan ke Kalimantan. Pihaknya berharap, semua turun untuk melakukan pemantauan dan pengamanan.

Ditegaskan Dandim, semua upaya tersebut bukan bermaksud menghilangkan tradisi, tapi mengatur tradisi, agar sesuai regulasi dan tidak membahayakan keselamatan penerbangan yang berakibat hilangnya nyawa seseorang. Semua pihak terkait, harus punya rencana aksi, dan semua pimpinan wilayah dan tokoh masyarakat harus turun ke lapangan.

Pihaknya mempersilakan kepada para komunitas balon udara tradisional untuk membuat festival di tiap kecamatan, yang penting sesuai regulasi, yakni balon ditambatkan, izin, rencana dan
pelaporan kegiatan juga harus dibuat.

Sementara Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik, Eko
Sutrisno Wibowo menyampaikan, fokus rapat koordinasi kali ini adalah tidak ada lagi penerbangan balon udara tradisional yang dilakukan secara liar, sehingga perlu
antisipasi yang dilakukan para pihak.

Di wilayah, khususnya di empat kecamatan, agar melakukan pemantauan dan melakukan pelaporan, agar tidak ada kecolongan. OPD terkait juga harus keliling, bersama Camat, Kapolsek dan Danramil. Pihaknya berharap, agar rencana operasional kegiatan dilaporkan sebelum dan sesudah kegiatan agar tidak lagi ada temuan kasus penerbangan balon udara tradisional tanpa awak yang liar dan menyalahi aturan. (AB)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.