Masuk Zona Merah Kemiskinan, Desa Pagerejo Sengaja Digenjot Event-event Wisata


Ribuan warga memadati gelaran Java Balloon Attraction 2019 di Desa Pagerejo Kecamatan Kertek, Wonosobo, Sabtu (15/6) lalu.

KERTEK (FOKUSSABA)- Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Wonosobo, One Andang Wardoyo menyebut dipilihnya Desa Pagerejo Kecamatan Kertek sebagai lokasi Java Balloon Attraction 2019, karena desa wisata tersebut termasuk zona merah kemiskinan dan degradasi lingkungan. Hal itu diungkapkan menjawab sejumlah tanggapan masyarakat perihal kegiatan festival balon dilakukan di kaki Gunung Sindoro.

"Dengan digenjotnya event wisata berupa
Java Balloon Attraction 2019 diharapkan akan mengangkat citra Desa Pagerejo sebagai desa wisata di bawah lereng Gunung Sindoro ini. Desa ini punya view yang bagus dan bisa dijadikan sebagai lokasi camping ground," beber dia. Pihaknya sangat berharap, jika semakin banyak dikunjungi wisatawan, kedepan Desa Pagerejo akan mulai meningkat dalam hal kesejahteraan masyarakatnya.

Baca juga : festival-balon-udara-ditambatkan-dapat

Selain itu, kata dia, gelaran Java Balloon Attraction 2019 juga masuk dalam rangkaian Festival Sindoro Sumbing, sehingga lokasi penyelenggaraan memang sengaja lebih dekat dengan dua areal gunung tersebut. Pihaknya mengakui lereng kedua gunung tersebut sudah banyak mengalami kerusakan, sehingga upaya pemulihan lingkungan diperlukan. "Kami berupaya mengajak masyarakat agar kawasan Sindoro Sumbing dilestarikan," tutur dia.

Senada, Bupati Wonosobo Eko Purnomo mengaku sangat mendukung tradisi lokal penerbangan balon udara tradisional yang aman. Pasalnya, penerbangan balon udara di hari raya Idul Fitri merupakan budaya lokal yang sudah turun-temurun di Wonosobo. Hanya saja penerbangan balon udara tradisional tersebut tidak boleh sampai mengganggu keamanan dan keselamatan penerbangan pesawat.

Agar tidak sampai mengganggu penerbangan pesawat balon udara tradisional diterbangkan dengan cara ditambat dengan tali. "Balon yang diterbangkan dengan cara ditambat, membuat balon udara tradisional tidak bisa terbang secara bebas atau liar. Balon udara hanya bisa terbang di angkasa dengan ketinggian maksimal 150 meter dari tanah", kata orang nomer satu di Wonosobo tersebut.

Baca juga : dandim-minta-kedepan-tak-ada-lagi-balon.

Menurut Eko, penyelenggaraan Java Balloon Attraction 2019 di Desa Pagerejo layak diapresiasi. Sebab, selain masyarakat bisa tetap membudayakan tradisi penerbangan balon udara tradisional, penerbangan balon dengan cara ditambat juga tidak melanggar peraturan yang ada. "Ini merupakan atraksi budaya sekaligus wisata. Selain nguri-uri budaya yang ada, warga dan wisatawan yang datang dapat menikmati atraksi penerbangan balon udara tradisional yang ditambat, sehingga menjadi hiburan tersendiri," tutur dia. (AB)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.