Petugas PSDKP Temukan Pencari Ikan di Sungai Serayu Pakai Strum, Satu Unit Alat Strum Ikan Diamankan, Pelaku Kabur


Petugas PSDKP Stasiun Cilacap menggelar barang bukti hasil operasi penangkapan ikan secara ilegal di Sungai Serayu di Kantor Bidang Perikanan Dispaperkan Wonosobo, belum lama ini.

WONOSOBO (FOKUSSABA)- Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan berhasil mengamankan satu unit alat strum dan peralatan tangkap ikan lainnya. Namun, pelaku berhasil kabur saat melihat petugas menggelar operasi terhadap penangkapan ikan yang melanggar aturan di Sungai Serayu wilayah Wonosobo tersebut, belum lama ini.

Kepala Sub Seksi Operasi dan Penangganan Pelanggaran Stasiun PSDKP Cilacap, Muhammad Hafizh mengungkapkan, pihaknya saat itu tengah melakukan operasi menggunakan perahu karet, menyusuri Sungai Serayu dari perbatasan Sawangan Leksono hingga Banjarnegara. "Hasilnya kita temukan dua orang sedang melakukan tindakan pencarian ikan menggunakan strum,” ungkap.

Menurutnya, pihak PPNS PSDK tidak berhasil menangkap pelaku, pasalnya ketika melihat ada petugas pelaku langsung melarikan diri dan meninggalkan peralatan tangkap ikan dan strum di pinggir sungai. "Kita memang sudah memantau, pelaku berhasil melarikan diri, posisinya mereka sedang disebrang sungai, alat strumnya kita temukan di pinggir sungai,” bebernya di Kantor Bidang Perikanan Dispaperkan Wonosobo.

Barang bukti yang berhasil diamankan diantaranya alat tangkap ikan yang dialiri dengan strum, dua accu, tempat wadah ikan, senter, topi, alat perbaikan jaring dan 8 ons ikan sungai berbagai jenis. “Dari informasi para pemancing yang ditemui di lokasi tempat kejadian memang menyebutkan, memang masih ada beberapa orang yang mencari ikan dengan alat strum di Sungai Serayu,” tandas dia.

Pihaknya akan melakukan penyelidikan lebih lanjut terhadap temuan alat tangkap ikan menggunakan strum tersebut, tentunya dengan berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat, sehingga kelestraian ikan sungai akan terjadi. “Kegiatan menangkap ikan menggunakan strum masuk kategori destruction fishing yang dilarang secara undang-undang, pelaku bisa diancam hukuman enam tahun dan denda Rp 1,5 milyar,” tegasnya.

Kedepan pihaknya akan melakukan operasi rutin bersama dinas terkait, serta melakukan upaya edukasi terhadap masyarakat. Namun yang paling penting partisiasi dari masyarakat Wonosobo untuk melaporkan jika ada kegiatan penangkapan ikan menggunakan alat strum atau alat lain yang merusakan lingkungan. “Mari kita jaga potensi sumber daya alam, jangan gunakan alat tangkap ikan yang dilarang, seperti strum, racun dan bom,” pintanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Perikanan Dinas Pangan Pertanian dan Perikanan (Dispaperkan) Kabupaten Wonosobo, Pramudji mengemukakan bahwa hasil operasi ini merupakan bukti bahwa masih ada masyarakat yang menggunakan alat tangkap ikan yang melanggar aturan dalam mencari ikan di Sungai Serayu. “Kita apresiasi terhadap laporan dari masyarakat Wonosobo kepada KKP," ujarnya.

Karena, mereka berani mengirimkan protes kepada menteri terkait masalah penggunaan alat strum yang tidak ramah lingkungan di Sungai Serayu, sehingga ada respon langsung. Setelah ini, pihaknya akan melakukan sosialisasi secara luas di masyarakat yang ada sekitar Sungai Serayu bersama PDSKP. Barang bukti hasil operasi yang dilakukan akan dijadikan sebagai salah satu materi.

“Ini menunjukan masih ada, dan tentu kita akan lakukan sosialisasi bersama, kita sangat senang dari KKP mau turun ke Wonosobo bersinergi dengan kita menjaga kelestarian ikan di Sungai Serayu,” jelasnya. (AB)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.