Tantangan Kedepan Profesi Keperawatan Harus Lulusan S1, Akper Ngesti Waluyo Komitmen Jadi Stikes


Direktur Akper Ngesti Waluyo Parakan Temanggung, Prihanto

TEMANGGUNG (FOKUSSABA)- Akademi Keperawatan (Akper) Ngesti Waluyo Parakan Temanggung berkomitmen tahun 2019 mendatang bakal beralih status menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Ngesti Waluyo Parakan. Pasalnya, tantangan kedepan, perguruan tinggi keperawatan, bakal mengharuskan lulusannya minimal strata satu (S1). Ditambah, era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) juga menuntut perguruan tinggi meningkatkan mutu para lulusannya agar berdaya saing.

Direktur Akper Ngesti Waluyo Parakan Temanggung, Prihanto menyebutkan, saat ini pihaknya terus berupaya mempersiapkan diri menuju proses alih status menjadi Stikes di tahun 2019 mendatang. "Tantangan kedepan, regulasi dari pemerintah bahwa lulusan keperawatan kedepan harus S1. Biarpun saat ini lulusan D3 saat ini masih diterima di rumah sakit-rumah sakit," ungkap dia kepada fokussaba.com di kantornya, Selasa (25/6) siang.

Baca juga : 120-mahasiswa-keperawatan-lakukan.

Menurut dia, untuk menunjang proses alih status, berbagai prasyarat memang harus dilengkapi. Saat ini pihaknya masih mengejar penyelesaian penyusunan borang (portofolio). Diharapkan penyusunan borang tersebut bisa selesai akhir tahun ini, dan pada awal tahun 2020 sudah bisa di upload. Hal ini karena sistem yang saat ini dipergunakan sudah menggunakan digital, sehingga untuk mendapat perizinan, visitasi maupun lainnya sudah bisa dilakukan awal tahun depan.

Upaya pengalihan status, menurut dia memang sudah menjadi tantangan kedepan perguruan tinggi untuk menjawab kebutuhan zaman. Dalam hal pengajaran, pihaknya terus berupaya menerapkan kurikulim yang benar-benar menunjang peningkatan mutu mahasiswa dan lulusan. Hal itu karena lulusan keperawatan bukan hanya dituntut memiliki keterampilan baik dalam bahasa maupun melayani atau pengetahuan saja, tetapi juga harus memiliki karakter.

"Pada prinsipnya banyak user (pengguna) yang menyampaikan karakter itu harga yang paling mahal dari seorang perawat. Kalau keterampilan atau pengetahuan itu rata-rata standard dimana-mana seorang perawat harus memiliki itu, tetapi ternyata karakter atau humanistik sangat penting. Karena yang dirawat adalah pasien sebagai seorang manusia yang seutuhnya," imbuh Pembantu Direktur 1 Bidang Kurikulim Eka Rahmawati.

Menurut dia, memang tantangan saat ini, khususnya era MEA yang sebetulnya sudah dilakukan, menuntut perguruan tinggi mampu membentuk mahasiswa maupun lulusan yang andal dan berdaya saing. "Karena karakter menjadi hal yang harus dimiliki para perawat, banyak muatan lokal yang diajarkan maupun diberikan kepada para mahasiswa, dikemas dalam satu bentuk berupa pendidikan karakter," tandas dia. (AB)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.