Fenomena Embun Es di Dataran Tinggi Dieng, Antara Berkah dan Musibah


Seorang warga melakukan penyemprotan tanaman kentang yang terkena bun upas di wilayah Dataran Tinggi Dieng, kemarin. (Foto : istimewa)


DIENG (FOKUSSABA)- Fenomena kemunculan embun es di Dataran Tinggi Dieng dalam beberapa pekan terakhir, disambut suka ria, sekaligus kekhawatiran oleh sejumlah petani kentang Dieng. Fenomena ini memang bagaikan dua sisi mata uang, embun es bisa jadi berkah sekaligus menjadi musibah. Namun demikian, karena sudah menjadi fenomena tahunan, masyarakat tetap bersabar.

Salah satu warga Dieng, Hasta Proyandono mengatakan, fenomena yang biasa disebut warga setempat bun upas itu hampir terjadi setiap tahun, khususnya saat memasuki musim kemarau. Selain di kawasan candi, fenomena itu bisa muncul di kawasan perkebunan hingga permukiman warga.
"Beberapa hari ini sudah muncul bun upas," ungkapnya kepada awak media.

Kemunculan embun es, satu sisi menjadi pertanda bakal naiknya pendapatan para pengelola wisata dan pemilik homestay. Karena, bisa dipastikan kunjungan wisata akan meningkat. Hal itu disebabkan kebanyakan para pelancong akan memburu sensasi embun es di pagi hari. Jadi imbasnya penginapan atau homestay akan penuh, pun dengan tiket ke objek wisata juga akan ludes.

Untuk masyarakat yang biasa menggantungkan hidupnya dari sektor pariwisata, tentu akan mendapatkan berkah melimpah. Namun, di sisi lain, kemunculan embun es, justru juga bisa mendatangkan kerugian bagi para petani di Dataran Tinggi Dieng . Pasalnya, bun upas yang muncul dari suhu udara hingga mencapai minus drajat celcius, bisa merusak pertanian tanaman kentang berusia muda.


Seorang warga melakukan penyemprotan tanaman kentang yang terkena bun upas di wilayah Dataran Tinggi Dieng, kemarin. (Foto: istimewa)

Senada diungkapkan warga Dieng lainnya, Aryadi Darwanto. Penyebab munculnya frost atau embun es, karena molekul udara di daerah pegunungan lebih renggang dibanding dataran rendah. Kondisi itu menyebabkan daerah pegunungan akan lebih cepat mengalami pendinginan. "Ini terutama saat cuaca cerah tidak tertutup awan atau hujan," ungkapnya.

Kondisi itu biasa berdampak pada munculnya uap air di udara dan akan mengalami kondensasi di malam hari. Kemudian, uap itu mengembun menempel di tanah, daun atau rumput. Fenomena ini yang disebut frost atau bun upas. Warga sekitar biasa menyebut fenomena ini bun upas, karena dapat menyebabkan tanaman kentang khususnya, yang baru tumbuh akan mati.

Biasanya, tanaman akan layu dan menguning setelah embun es mencair terkena sinar matahari. Munculnya bun upas juga bisa diprediksi, salah satunya adalah apabila sehari sebelumnya cuaca cerah tanpa awan dan suhu pada malam harinya turun hingga di bawah 10 derajat celcius. Kondisi ini memang menjadi berkah sekaligus musibah bagi warga masyarakat di Dataran Tinggi Dieng. (AB)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.