Kerusakan Lingkungan dan Kebakaran Hutan Sindoro-Sumbing Bakal Diangkat dalam Sendratari


Sejumlah warga melakukan kegiatan penambangan pasir dan batu di lereng Gunung Sindoro wilayah Kecamatan Kertek hingga membuat kerusakan parah lingkungannya.

WONOSOBO (FOKUSSABA)- Peristiwa kebakaran hutan, kerusakan lingkungan di lereng Gunung Sindoro maupun Gunung Sumbing, serta upaya masyarakat untuk membasmi permasalahan tersebut, bakal diangkat dalam Sendratari Sindoro Sumbing Mapageh Sang Watukulumpang di Lapangan Desa Kledung Kecamatan Kledung, Temanggung tanggal 20 Juli 2019 mendatang.

Pagelaran akbar tersebut akan digelar berkat kolaborasi Kabupaten Wonosobo dengan Kabupaten Temanggung, dalam rangkaian Festival Sindoro Sumbing (FSS) 2019. Pentas sendratari tersebut rencananya bakal dipimpin dua kepala daerah bertetangga tersebut, antara lain Bupati Wonosobo Eko Purnomo dan Bupati Temanggung Muhammad Al Khadziq.

Kepala Bidang Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Khristiana Dhewi mengungkapkan, gelaran sendratari sengaja digelar dari kolaborasi dua kabupaten, karena memang gelaran FSS merupakan kegiatan kolaborasi dua kabupaten tersebut. Karena, beberapa waktu lalu memang antar kabupaten tersebut masih sibuk dengan hajat kegiatan masing-masing.


Kepala Bidang Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Khristiana Dhewi memimpin kegiatan focus group discussion rencana pagelaran Sendratari Sindoro Sumbing Mapageh Sang Watukulumpang.

Maka pada bulan Juli, tepatnya tanggal 20 Juli 2019 kedua kabupaten akan menggelar agenda besar dalam satu panggung megah.
Dalam Sendratari Sindoro Sumbing Mapageh Sang Watukulumpang, nantinya sendratari tersebut akan banyak menceritakan kilas balik tentang sejarah dan kebudayaan dua wilayah yang pada masa lampau yang merupakan wilayah yang sama.

Diharapkan sendratari tersebut dapat membangkitkan semangat masyarakat untuk perduli dengan alam dan lingkungan. Hal senada juga diungkapkan, Pamong Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Temanggung, Sugeng Riyadi. Memang, banyak kisah bisa diangkat mengenai kehidupan masyarakat di lereng Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Namun, dalam penyelenggaraan itu, panitia bersama elemen lain sengaja mengangkat isu-isu lingkungan yang hendaknya kedepan bisa disikapi bersama. "Seperti kita ketahui kebakaran hutan di lereng Gunung Sindoro maupun Sumbing hampir terjadi setiap tahun. Kemudian, saat ini banyak pula kerusakan di lereng dua gunung tersebut akibat kegiatan penambangan liar, seperti halnya galian c.

Bukan hanya di Wonosobo, di Temanggung juga ada, sehingga perlu ada sikap dari dua kabupaten ini," beber dia. Melalui pendekatan kebudayaan memang pihaknya ingin meningkatkan kesadaran masyarakat untuk lebih sayang dengan lingkungan. Selain itu, hal ini juga menjadi kritik bersama, lebih khusus pemangku kebijakan, agar nantinya akan ada peraturan yang dibuat dua kabupaten tersebut, menyikapi kerusakan lingkungan maupun kasus kebakaran hutan yang sudah sering kali terjadi. (AB)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.