Sang Pejuang Bencana Meninggal Dunia Lawan Kanker Paru-paru


Sutopo Purwo Nugroho (Foto: Dok Pribadi)

KEPALA Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho meninggal dunia dini hari tadi. Sang pejuang bencana itu meninggal dalam perjuangannya melawan kanker paru-paru saat dirawat di rumah sakit di Guangzhou, China.

"Telah meninggal dunia Bapak @Sutopo_PN , Minggu, 07 July 2019, sekitar pukul 02.00 waktu Guangzhou/pukul 01.00 WIB. Mohon doanya untuk beliau," tulis Direktorat PRB melalui akun Twitter-nya, Minggu (7/7/2019).

Dilansir dari detik.com, Sutopo didiagnosis sekitar awal Desember 2017. Di tengah perjuangannya melawan kanker, Sutopo masih sempat bertugas mengawal kejadian bencana di Indonesia. Dikutip dari berbagai sumber, Sutopo lahir di Boyolali pada 7 Oktober 1969. Putra dari pasangan Suharsono Harsosaputro dan Sri Roosmandari itu mulai bekerja di instansi pemerintah sejak tahun 1994.

Sutopo mengawali karirnya di Badan Pengkajian dan Penelitian Teknologi (BPPT) sebagai pegawai di bidang penyemaian awan. Lulusan Universitas Gadjah Mada dan IPB itu kemudian didapuk sebagai Kepala Bidang Teknologi Mitigasi Bencana, Pusat Teknologi Pengelolaan Lahan, Wilayah dan Mitigasi Bencana Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Saat bekerja di BPPT, Sutopo kemudian didaulat untuk membantu Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga bekerja penuh untuk lembaga tersebut. Pada tahun 2010, dia dipercaya sebagai Direktur Pengurangan Risiko Bencana. Di tahun yang sama pada bulan November, Sutopo kemudian didapuk sebagai Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB hingga saat ini.

Sutopo pernah dianugrahi Asian Of The Year 2018. Dilansir dari republika.co.id, Sutopo kecil dulu sering mendapat perundungan. Sebabnya, ia miskin, jelek, berkulit hitam dan bodoh. Kepada Republika Sutopo mengaku hingga kelas dua Sekolah Dasar, belum bisa membaca dan menulis. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya dengan mengontrak rumah gedek (anyaman bambu) di Kota Boyolali.

Rumahnya masih beralas tanah lempung. Tiap sehabis hujan, muncul laron-laron dari dalam tanah di dalam rumahnya. Sutopo mengingat, saat itu justru menjadi peristiwa menyenangkan baginya. Sebab, ia akan menangkap laron-laron itu, dan sang ibu Sri Roosmandari akan membuatkan rempeyek laron untuknya. “Tambah nasi dan garam enak sekali,” kenangnya.

Meski bodoh, Sutopo kecil rajin membantu orang tuanya terkait pekerjaan rumah. Ia mendapat tugas menyapu halaman. Hal inilah yang menjadi titik balik kehidupannya saat itu. Sutopo menceritakan, perubahan totol kehidupannya diperoleh setelah mendapat pujian dari Ibu Guru Sri Suwarti. Ketika itu, Sutopo kecil yang duduk di kelas empat SD, tengah menyapu halaman rumah, Ibu Guru Sri Suwarti lewat di depan rumahnya.

“Ketika menyapu itu Bu Suwarti lewat, beliau memuji saya, Topo rajin ya bantu ibunya menyapu halaman. Besoknya siangnya di sekolahan, di kelas dipuji. Saya merasakan pujian itu menyenangkan, dan bangga,” ujar Sutopo. Dari pujian sang guru, Sutopo menyadari bahwa menjadi orang pintar itu menyenangkan. Akhirnya, ia bertekad dan terus belajar.

Hasilnya, sejak kelas lima SD hingga menempuh pendidikan di perguruan tinggi, Sutopo yang beranjak dewasa terus menuai prestasi. Ia mengenang, selalu menyenangkan ketika orang tuanya mengambil rapor hasil belajar di sekolah. “Bangga saya lihat Bapak saya, karena setiap ditanya Sutopo gimana gitu jadi omongan. Itu rasa kepuasan membahagiakan orang tua,” kenangnya. (AB)

#ripsutopo

Sumber :
www.detik.com
www.republika.co.id

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.