Sebagian Besar Petani Tembakau Sawah Baru Tanam Awal Juni


Seorang petani tembakau di Kecamatan Tembarak tengah melakukan penyiangan tanaman tembakau miliknya, kemarin.

TEMANGGUNG (FOKUSSABA)- Sebagian besar petani tembakau yang mengarap lahan persawahan, saat ini baru menanam tembakau pada awal bulan Juni lalu. Ada juga petani yang baru tanam tembakau setelah perayaan Lebaran lalu. Sejumlah petani beralasan, menanam tembakau di lahan persawahan tidak seperti petani tembakau yang mengelola lahan tegalan, sehingga usia tembakau di lahan persawahan dinilai lebih cepat.

Salah satu petani tembakau di Desa Wonokerso Kecamatan Tembarak, Budiyono (48) mengungkapkan, berbeda dengan petani tembakau di lereng Gunung Sindoro, Sumbing dan Prau yang sudah mengawali musim tanam tembakau di awal bulan April, petani tembakau di lahan persawahan memang baru mulai tanam tembakau di awal bulan Juni 2019. “Memang beda, kalau di sawah tanam tembakaunya memang lebih mundur," ujarnya.

Untuk musim tanam di lahan tegalan, memang musim tanamnya mulai dari akhir Febuari lalu. Hal itu diakui karena usia tembakau di lahan tegalan paling tidak minimal enam bulan. Sedangkan usia tanaman tembakau di lahan persawahan usianya antara tiga sampai empat bulan sudah bisa mulai dipanen. Hal senada disampaikan Solahudin (51), petani tembakau di area persawahan lainnya.

Menurutnya, menanam tembakau di lahan persawahan harus menunggu curah hujan mulai berkurang, sebab jika menanam tembakau saat curah hujan tinggi, maka kemungkinan tanaman tembakau untuk hidup sangat kecil. “Sawah tanahnya lebih lembab, jadi jika curah hujan masih tinggi, maka akar tembakau akan lebih mudah busuk. Jadi sebagian besar petani lebih memilih menanam tembakau saat memasuki musim kemarau,” ungkap dia.

Terkait kualitas tembakau, Solahudin menyebutkan, kualitas tembakau yang dibudidayakan di lahan perwasahan kualitasnya lebih rendah dibandingkan dengan tembakau yang ditanam di lahan tegalan. “Secara kualitas memang diakui jauh dari pada tembakau tegalan. Baik dari aroma, daun dan kualitas tembakaunya memang lebih baik tembakau yang ditanam di area tegalan,” terangnya.

Sementara untuk harga, lanjutnya, tembakau dari lahan tegalan harganya bisa dua hingga tiga kali lipat jika dibandingkan dengan tembakau dari lahan persawahan. Harga tersebut ditentukan dari kualitas tembakau saat panen raya tiba. “Soal harga kami dari petani sawah memang tidak pernah iri dengan petani tembakau tegalan, selain kualitasnya lebih bagus. Biaya tanam tembakau di lahan tegalan lebih mahal,” ujarnya.

Namun demikian pihaknya berharap, panen raya tembakau tahun ini cuaca bisa lebih mendukung, sehingga tembakau yang dihasilkan oleh petani lokal Temanggung kualitasnya bisa lebih baik. Dengan demikian bisa mendongkrak harga jual tembakau rajangan kering. “Harapan kami panen raya tahun ini harganya bisa lebih baik dari tahun kemarin, untuk tembakau sawah tahun kemarin paling mahal bisa mencapai Rp 90 ribu per kilogram, semoga saja bisa lebih baik,” harapnya. (AB)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.