Dinilai Berbahaya, Santri dan Masyarakat Diminta Tak Mandi di Sungai Wanganaji


Petugas Basarnas Unit Siaga Wonosobo saat melakukan upaya pencarian korban tenggelam di aliran Sungai Wanganaji di Dusun Kongsi Desa Bumirejo Kecamatan Mojotengah, Wonosobo, Rabu (23/10) lalu.


MOJOTENGAH (FOKUSSABA)- Kapolsek Mojotengah AKP Widayatno meminta para santri di lingkungan Pondok Pesantren Al Anwar Jawar tak melakukan aktivitas mandi di aliran Sungai Wanganaji di Dusun Kongsi Desa Bumirejo Kecamatan Mojotengah, Wonosobo. Hal itu menyusul adanya kasus meninggalnya seorang santri di pondok pesantren tersebut yang diduga tenggelam karena tak bisa berenang.

"Ini jadi perhatian bersama. Ya saya meminta para santri atau masyarakat tidak perlu mandi di Sungai Wanganaji. Menurut informasi pengelola pondok, para santri sudah diingatkan tidak mandi-mandi di Sungai Wanganaji, tetapi saat habis kerja bakti, tanpa sepengetahuan pengurus ternyata ada yang mandi di situ. Diduga korban tidak bisa berenang, sehingga tenggelam," ungkapnya Kamis (24/10) sore.

Lebih lanjut dia menyebutkan, kondisi Sungai Wanganaji lokasi meninggalnya korban memang cukup dalam, sehingga sangat berbahaya. Diharapkan, pengelola pondok pesantren maupun masyarakat selalu berupaya mengingatkan agar santri tak perlu melakukan aktivitas mandi di sungai, lebih khusus jika memang tidak memiliki keterampilan berenang. Hal itu sebagai kehati-hatian agar kejadian tak terulang.

"Selama saya bertugas di Polsek Mojotengah, sepertinya ini kasus pertama . Semoga tidak terulang lagi. Setahu saya di situ (Sungai Wanganaji-red) hanya digunakan untuk aktivitas memancing masyarakat, bukan untuk mandi. Untuk kondisi korban, selepas di evakuasi dan dibersihkan, langsung diantarkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan. Kami turut prihatin dengan kejadian ini," tutur dia.

Sebelumnya, nasib nahas menimpa Nur Hidayat (14), seorang santri di Pondok Pesantren Al Anwar Jawar Kecamatan Mojotengah Kabupaten Wonosobo. Diduga karena tak bisa berenang, santri asal Kecamatan Pagentan Kabupaten Banjarnegara itu ditemukan sudah dalam kondisi tak bernyawa di aliran Sungai Wanganaji Mojotengah pada kedalaman air 5,2 meter. Kejadian petaka tersebut terjadi pada Rabu (23/10) sekitar pukul 12.00 lebih.

Rescuer Badan SAR Nasional (Basarnas) Unit Siaga Wonosobo, Alif Dedi Setiawan menyebutkan, awalnya korban bersama empat teman lainnya sedang mandi di aliran Sungai Wanganaji. Anak-anak itu mandi dengan cara melompat dari pinggiran, kemudian ke kedung sungai. Saat bermain lompat ke air, empat anak tampak bisa berenang. Namun, korban rupanya tidak kunjung muncul.

Tim Rescuer Unit Siaga SAR Wonosobo menemukan korban sekitar pukul 15.00. Korban berhasil dievakuasi di sekitar lokasi kejadian di kedalaman sungai 5,2 meter dalam keadaan meninggal dunia. Upaya penyelamatan membutuhkan waktu tiga jam karena jarak pandang di kedalaman dasar air kosong. "Bisa dikatakan zero visibility. Kami mengimbau masyarakat atau anak-anak, harus berhati-hati saat berenang," tutur dia. (AB)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.