Limbah Pabrik Diduga Dibuang ke Sungai, Ekosistem Sungai Elo Soropadan Terancam Rusak


Salah satu warga menunjukkan kondisi air Sungai Elo yang tercemar limbah salah satu pabrik di Kecamatan Pringsurat, Temanggung, Rabu (9/9) tadi. (Foto: Dok Istimewa) 

TEMANGGUNG (FOKUSSABA)– Ekosistem di Sungai Elo Desa Soropadan Kecamatan Pringsurat, Temanggung terancam rusak. Kondisi itu disebabkan adanya salah satu pabrik di Kecamatan Pringsurat yang diduga melakukan pembuangan limbah ke sungai hingga kondisi air menjadi kotor, menimbulkan bau yang sangat menyengat dan menyebabkan penyakit gatal-gatal.

Seorang pencari ikan di hulu Sungai Elo, Haryoto mengaku sangat merasakan dampak yang ditimbulkan pembuangan limbah tersebut. Sebelum ada pembuangan air limbah ke sungai tersebut, ikan yang ia pancing sangat mudah didapatkan. Namun, setelah adanya aktivitas pembuangan air limbah tersebut ke sungai, ikan sangat susah didapatkan.

“Baunya sangat menyengat sekali, apalagi saat pabrik membuang air limbahnya. Sudah lima tahun ini, awalnya memang masih banyak, semakin kesini ternyata ikan semakin susah didapatkan,” ujarnya kepada awak media. Dia mengaku, sesekali pernah melihat air limbah yang keluar dari pembuangan limbah tersebut berwarna hitam pekat.

Selain itu, limbah menimbulkan bau yang sangat menyengat dan menyebabkan gatal-gatal. Dia mengaku pernah merasakan dampaknya secara langsung. "Saya pernah merasakan, sehabis mencari ikan dikali itu, kulit langsung gatal-gatal. Ikannya juga sudah mulai punah,” beber dia. Kondisi limbah pabrik juga dikeluhkan masyarakat Desa Soropadan Kecamatan Pringsurat lainnya. 

Salah satu perwakilan Komunitas Hulu Kali Elo, Nauval Imam Fahrudin mengungkapkan, pembuangan air limbah dari salah satu pabrik di daerahnya sangat tidak ramah lingkungan, sehingga menyebabkan air di Sungai Elo berubah menjadi keruh. Selain itu, air limbah juga menganggu ekosistem ikan yang ada di Sungai Elo terganggu, bahkan membuat populasi ikan makin berkurang.

Menurut dia, kondisi limbah pabrik tersebut sangat menganggu, lebih khusus masyarakat yang biasa melakukan aktivitas penunjang mata pencaharian sebagai pencari ikan, kini sudah tidak bisa lagi mendapatkan ikan di sungai itu. Tidak hanya itu, air limbah dari pabrik tersebut juga sudah menyebabkan pencemaran air di sungai tersebut.

Dikatakan, masyarakat yang biasa beraktivitas di sungai tersebut akan mengalami gatal-gatal sehabis beraktivitas di kali tersebut. “Tidak menunggu sampai berhari-hari, setelah satu hingga dua jam akan langsung gatal-gatal,” ucapnya. Mengenai pembuangan limbah, pihaknya baru mengetahui saat dirinya bersama masyarakat lainnya melakukan tubing di sungai tersebut.

"Saat tubing kami lihat air pembuangan limbah dari pabrik itu berwana keruh kecoklatan. Desa kami kan menjadi salah satu desa wisata di Temanggung. Untuk menambah daya tarik wisatawan, kami menawarkan kegiatan tubing. Kegiatan ini kami lakukan uji coba dari candi umbul, sesampainya di tempat pembuangan limbah dari pabrik itu ternyata air limbahnya sangat keruh sekali," beber dia.

Bahkan, kata dia, warna air kadang berwana merah, hijau dan kadang hitam pekat sekali, warna airnya limbahnya berubah-ubah. Menurutnya, pada saat siang hari debit air dari pembuangan limbah itu memang kecil, namun jika malam hari air limbah dari pabrik itu cukup besar.

Dampak dari pembuangan air limbah ini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di Desa Soropadan saja, namun juga dirasakan oleh masyarakat di Desa Donorejo dan Secang Magelang. “Yang saya ketahui tiga desa ini yang terdampak langsung, kalau setelah Secang hingga ke Magelang kami belum tahu secara pasti,” tuturnya. (AB)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.